“Daya beli dan kunjungan konsumen ke pasar rakyat memang menurun. Banyak faktor yang memengaruhi, tidak hanya soal ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, derasnya arus perdagangan daring juga ikut menggerus jumlah pengunjung pasar. Layanan belanja online kini bukan hanya milik kota besar, tetapi sudah menembus hingga pelosok desa, membuat pasar tradisional makin sepi langkah kaki.
Selain itu, menjamurnya toko dan pertokoan milik warga yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari juga menjadi pesaing langsung pasar rakyat.
“Sekarang masyarakat bisa memenuhi kebutuhan dengan mudah di mana saja. Tidak harus selalu ke pasar rakyat,” kata Ridwan.
Meski demikian, Pemkab Garut menegaskan pasar rakyat tetap diproyeksikan sebagai pusat perdagangan masyarakat sekaligus sumber pendapatan asli daerah. Pemerintah daerah pun berkomitmen menjaga eksistensinya agar tidak sekadar menjadi saksi bisu perubahan zaman.
Salah satu strategi yang ditempuh adalah perbaikan sarana dan prasarana pasar secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah.
“Pembenahan infrastruktur terus kami lakukan secara bertahap. Harapannya, pasar rakyat bisa kembali jadi pilihan utama, bukan pilihan terakhir,” pungkas Ridwan.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










