[Locusonline.co] Bandung — Kota Bandung mengawali tahun 2026 dengan catatan positif di bidang ekonomi. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), kota ini mengalami deflasi sebesar 0,09 persen pada Januari 2026 secara month-to-month (MtM), sejalan dengan tren deflasi yang sama di tingkat Provinsi Jawa Barat. Capaian ini menjadi indikator awal terjaganya keseimbangan pasokan dan permintaan, serta daya beli masyarakat.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyambut baik rilis data tersebut. Ia menegaskan bahwa deflasi Januari ini mencerminkan keberhasilan pengendalian harga, terutama pada kelompok bahan pangan pokok yang sangat berpengaruh terhadap pengeluaran rumah tangga.
“Kami mencermati data BPS dengan serius. Deflasi Januari ini merupakan kabar baik karena menunjukkan harga kebutuhan pokok relatif terkendali. Ini berarti pasokan pangan berjalan lancar dan daya beli masyarakat Kota Bandung tetap terjaga,” ujar Farhan, Selasa (3/2).
Pendorong Deflasi: Penurunan Harga Komoditas Pangan
Deflasi sebesar 0,09% pada Januari 2026 terutama didorong oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan strategis. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami deflasi yang lebih dalam, yaitu 0,83 persen, dan memberikan andil deflasi sebesar 0,25 persen terhadap deflasi total Kota Bandung.
Beberapa komoditas yang harganya turun signifikan antara lain:
- Cabai rawit
- Cabai merah
- Daging ayam ras
- Telur ayam ras
- Wortel
- Bawang merah
Perbandingan Inflasi Tahunan dan Tantangan ke Depan
Meski mengalami deflasi bulanan, secara year-on-year (YoY) atau dibandingkan Januari 2025, Kota Bandung masih mencatat inflasi sebesar 3,52 persen. Angka ini sedikit lebih rendah dari inflasi nasional yang berada di 3,55 persen. Inflasi tahunan ini terutama masih disumbang oleh faktor-faktor di luar pangan, seperti:
- Kenaikan tarif listrik.
- Kenaikan harga emas perhiasan.
Wali Kota Farhan mengakui bahwa inflasi tahunan masih berada dalam rentang yang terkendali, namun tetap memerlukan kewaspadaan. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Bandung akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menjaga stabilitas harga, terutama dalam menghadapi periode-periode yang berpotensi memicu lonjakan permintaan, seperti menjelang bulan Ramadan dan Lebaran 2026.
“Inflasi tahunan masih berada dalam rentang yang terkendali dan wajar. Pemerintah Kota Bandung terus berkoordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) serta instansi terkait agar stabilitas harga tetap terjaga,” jelas Farhan.
Strategi Pemkot: Dari Pemantauan Pasar hingga Intervensi
Farhan menegaskan bahwa data BPS menjadi landasan utama dalam perumusan kebijakan ekonomi daerah. Berbagai langkah strategis telah dan akan terus dioptimalkan untuk mempertahankan stabilitas, antara lain:
- Pemantauan Harga Rutin: Melakukan pengawasan langsung di pasar-pasar tradisional untuk mendeteksi dini gejolak harga.
- Penguatan Distribusi Pangan: Memastikan kelancaran rantai pasok dari produsen ke konsumen untuk menghindari kelangkaan.
- Intervensi Pasar Proaktif: Melakukan operasi pasar atau menyalurkan bantuan pangan jika diperlukan untuk meredam kenaikan harga yang tidak wajar.
“Kebijakan harus berbasis data. Karena itu, kami menjadikan rilis BPS sebagai dasar pengambilan keputusan agar setiap langkah yang diambil benar-benar berdampak bagi masyarakat,” pungkas Wali Kota.
Dengan langkah-langkah antisipatif dan koordinasi yang intensif, Pemkot Bandung bertekad untuk mempertahankan momentum positif di awal tahun dan mengelola tekanan inflasi ke depan, sehingga kesejahteraan dan daya beli masyarakat Kota Bandung dapat terus terjaga. (**)













