“Dari denting gamelan hingga alunan suling, SMKN 12 Garut mengirim pesan sederhana namun tegas, teknologi boleh maju, tetapi budaya tidak boleh mundur. Di tengah era serba online, mereka memilih tetap “tersambung” dengan akar tradisi.”
LOCUSONLINE, GARUT – Ketika gawai semakin lengket di tangan pelajar dan algoritma lebih dipercaya daripada guru, SMKN 12 Garut justru memilih jalan berbeda. Sekolah kejuruan ini tidak menolak digitalisasi, tetapi menolak tunduk sepenuhnya pada layar. Di tengah banjir konten viral, mereka memasang benteng: seni tradisional Sunda.
Alih-alih membiarkan murid tenggelam dalam dunia scrolling tanpa henti, SMKN 12 Garut menjadikan gamelan, kacapi, dan suling sebagai “penyeimbang mental” di era serba digital.
Kepala SMKN 12 Garut, Heryatno, menyebut Indonesia bukan sekadar pasar aplikasi, tetapi juga rumah besar kebudayaan.
“Negeri ini kaya seni dan nilai. Budaya Sunda salah satu yang paling kuat fondasinya,” ujar Heryatno.
Ia menilai, derasnya arus teknologi tidak boleh menjadikan seni tradisi sekadar pajangan museum atau bahan lomba seremonial.
Menurutnya, justru di era digital inilah sekolah diuji: apakah hanya mencetak operator aplikasi, atau membentuk manusia berkarakter.
“Digitalisasi tidak boleh membunuh identitas. Kami ingin kemajuan berjalan, tapi budaya tetap berdiri,” tegasnya.
Di lingkungan sekolah, kebijakan itu tidak berhenti sebagai slogan di spanduk. SMKN 12 Garut secara aktif menghidupkan pembelajaran seni tradisional, mulai dari kacapi-suling hingga Gamelan Degung, sebagai bagian dari kehidupan siswa.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










