[Locusonline.co] Bandung — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung mendeklarasikan pergeseran paradigma strategis dalam penanganan banjir dan longsor. Fokus utama kini diarahkan pada penguatan daya resap air tanah sebagai akar masalah, meninggalkan pendekatan konvensional yang hanya berfokus pada kapasitas aliran sungai semata. Perubahan strategi ini menandai langkah lebih holistik dan berkelanjutan dalam membangun ketahanan kota.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi, secara tegas menyatakan bahwa urbanisasi dan perubahan tata guna lahan yang masif telah menjadi penyebab mendasar. “Ketika resapan berkurang, potensi banjir otomatis meningkat,” ujar Didi, Selasa (3/2).
Paradigma Baru: Dari Sungai ke Tanah
Selama ini, pemahaman umum dan solusi teknis seringkali terfokus pada normalisasi dan pelebaran sungai serta pengerukan sedimentasi. Namun, data dan analisis BPBD menunjukkan bahwa peningkatan limpasan permukaan (surface runoff) akibat berkurangnya area resapan merupakan faktor kunci yang selama ini kurang mendapat perhatian.
“Banjir sering dikaitkan dengan kapasitas aliran sungai. Padahal yang paling mendasar adalah kapasitas resapan,” tegas Didi Ruswandi. Ketika hujan turun di wilayah yang hampir seluruh permukaannya tertutup beton dan aspal, air tidak lagi memiliki waktu dan ruang untuk meresap. Alhasil, volume air yang langsung mengalir ke saluran dan sungai melonjak drastis, melampaui kapasitas tampung sistem drainase yang ada.
Strategi Hijau dan Biru: Solusi Berbasis Alam

Untuk mengatasi defisit resapan ini, BPBD Kota Bandung mendorong program mitigasi berbasis lingkungan atau ekohidrolik secara masif. Solusi ini tidak hanya mengandalkan infrastruktur abu-abu (grey infrastructure) seperti tanggul, melainkan memanfaatkan infrastruktur hijau dan biru (green-blue infrastructure).Jenis Infrastruktur Contoh Aplikasi Fungsi & Manfaat Utama Infrastruktur Hijau (Green) Penghijauan, taman kota, bioswale, taman atap (roof garden), vertical garden. Meningkatkan resapan, menahan air, meredam panas, memperbaiki kualitas udara. Infrastruktur Biru (Blue) Sumur resapan, kolam retensi/biopori, danau/waduk mikro. Menampung air sementara, memperlambat aliran, mengisi kembali air tanah.
“Sumur resapan, kolam retensi, dan penghijauan menjadi solusi yang paling realistis,” jelas Didi. Kawasan dengan tutupan vegetasi yang baik memiliki kemampuan resapan yang jauh lebih tinggi dibanding kawasan yang gundul dan kedap air.
Kolaborasi Multipihak: Kunci Keberhasilan
BPBD menyadari bahwa program ambisius ini tidak akan berhasil tanpa peran serta aktif seluruh pemangku kepentingan. Didi Ruswandi secara khusus mengajak masyarakat dan pengembang properti untuk terlibat.
“Mitigasi bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” tuturnya. Masyarakat diimbau untuk menjaga dan menambah ruang hijau di lingkungannya, serta tidak menutup seluruh halaman dengan paving atau beton. Sementara itu, pengembang didorong untuk menerapkan konsep bangunan ramah air, seperti wajib membangun sumur resapan, menyediakan area hijau, dan menggunakan material permeable untuk parkiran.
“Kesadaran kolektif untuk menjaga ruang hijau… akan sangat menentukan masa depan Bandung,” pungkas Didi. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan sektor swasta ini diharapkan dapat membangun sistem ketahanan kota yang tangguh terhadap ancaman banjir dan longsor dalam jangka panjang.
Pergeseran strategi BPBD Bandung ini sejalan dengan tren global dalam pengelolaan risiko bencana dan air perkotaan, yang semakin mengedepankan solusi berbasis alam (Nature-based Solutions/NbS) sebagai investasi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.













