Bandung

Gaslah, Jurus Baru Bandung Lawan Tumpukan Sampah

rakyatdemokrasi
×

Gaslah, Jurus Baru Bandung Lawan Tumpukan Sampah

Sebarkan artikel ini
Gaslah, Jurus Baru Bandung Lawan Tumpukan Sampah locusonline featured image Feb

[Locusonline.co] Bandung — Kota Bandung dipaksa untuk melakukan lompatan besar dalam pengelolaan sampah. Menyusul pengurangan kuota pembuangan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sebesar 20% atau sekitar 300 ton per hari, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengumumkan strategi baru yang radikal: menjadikan Bandung sebagai kota pertama di Indonesia yang menyelesaikan masalah sampah langsung di tingkat Rukun Warga (RW). Andalan utama strategi ini adalah program Gaslah (Petugas Pemilah) yang akan menjadi ujung tombak di setiap wilayah.

“Kita terancam akan ada tumpukan sampah 300 ton setiap hari. Maka andalan kita adalah wilayah,” tegas Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam Siskamling Siaga Bencana ke-81 di Kelurahan Sadang Serang, Rabu (4/2).

tempat.co

Paradigma Baru: “Sampah Hari Ini, Habis Hari Ini”

Farhan menegaskan, Bandung harus keluar dari pola lama yang bertumpu pada pengangkutan dan penumpukan di Tempat Penampungan Sementara (TPS). Visi barunya adalah pemilahan dan pengolahan mandiri berbasis komunitas.

“Bandung harus jadi kota pertama yang melakukan pemilahan dari rumah dan diselesaikan di RW. Sampah organik harus selesai di RW. Sampah non-organik baru akan diangkut petugas. Kita mau menerapkan sistem: sampah hari ini habis hari ini,” paparnya.

Target ini ambisius namun terukur. Sebagai contoh, di Kelurahan Sadang Serang saja, jika 21 RW masing-masing menghasilkan 25 kilogram sampah organik per hari, maka ada sekitar 525 kilogram yang harus dikelola di tingkat wilayah setiap harinya. Ini menekankan skala tantangan sekaligus peluang yang ada.

Peran Sentral “Gaslah” dan Dukungan Pemkot

Program Gaslah menjadi kunci operasionalisasi strategi ini. Petugas-petugas ini akan bertugas di garda terdepan, memandu warga melakukan pemilahan dari sumbernya dan mengelola proses pengolahan sampah organik di fasilitas RW.

Namun, tantangan infrastruktur diakui masih ada. Tidak semua RW memiliki fasilitas pengolahan yang memadai. Untuk sementara, Pemkot menyiapkan solusi hybrid:

  • Penampungan terpusat di tingkat kelurahan untuk RW yang belum memiliki fasilitas.
  • Dukungan logistik seperti maggot (larva Black Soldier Fly) untuk percepatan penguraian sampah organik.
  • Sentralisasi pengolahan di lokasi strategis yang memiliki lahan cukup.

Siklus Ekonomi Sirkular: Dari Sampah ke Pangan

Yang membedakan strategi ini dari program sejenis adalah integrasinya yang erat dengan program unggulan kota lainnya. Farhan merancang sebuah siklus ekonomi sirkular terintegrasi:

  1. Gaslah & Kang Pisman: Mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos.
  2. Buruan Sae (Pertanian Urban): Menggunakan kompos tersebut untuk menyuburkan lahan pertanian kota.
  3. Dapur Dahsat (Ketahanan Pangan): Hasil panen dari Buruan Sae digunakan untuk memasak di dapur-dapur komunitas.

“Kompos hasil pengolahan sampah harus 100% dimanfaatkan oleh Buruan Sae. Hasil panen Buruan Sae harus dimanfaatkan oleh Dapur Dahsat. Sisa sampahnya kembali diolah. Ini siklus yang sempurna,” jelas Farhan.

Untuk menjamin keberlangsungan siklus ini, Pemkot berjanji akan menyerap 100% kompos yang dihasilkan oleh warga, asalkan diinformasikan terlebih dahulu. Hal ini menghilangkan kekhawatiran warga tentang pasar untuk hasil pengolahan mereka.

Analisis: Peluang dan Tantangan Menuju Kota Bebas Sampah Mandiri

Strategi berbasis wilayah ini memiliki potensi disruptif yang besar. Jika berhasil, Bandung tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada TPA, tetapi juga:

  • Mengurangi emisi karbon dari transportasi sampah jarak jauh.
  • Menciptakan ekonomi lokal baru di sekitar pengelolaan sampah dan pertanian urban.
  • Membangun ketahanan komunitas melalui kemandirian pengelolaan lingkungan.

Namun, jalan menuju kesana penuh tantangan. Keberhasilan mutlak bergantung pada:

  1. Konsistensi dan Disiplin Warga: Perubahan perilaku dari membuang menjadi memilah dan mengolah adalah fondasi utama.
  2. Kapasitas dan Keberlanjutan Gaslah: Petugas ini perlu didukung dengan pelatihan, insentif, dan sistem manajemen yang jelas.
  3. Koordinasi Lintas Program: Integrasi Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Dahsat membutuhkan koordinasi administratif dan logistik yang sangat kuat antar dinas.

Dengan mengumumkan target menjadi “kota pertama”, Pemkot Bandung telah memasang target yang tinggi. Gaslah bukan sekadar program tambahan, melainkan sebuah gerakan transformasi sosial-lingkungan yang menjadikan setiap warga dan setiap RW sebagai pahlawan lingkungan bagi kotanya sendiri. Keberhasilan atau kegagalan strategi ini akan menjadi pelajaran berharga bagi kota-kota lain di Indonesia yang bergumul dengan masalah sampah yang sama. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow