“Semua dinilai, dari kebersihan, pemeliharaan tanaman, media publikasi, sampai implementasi kegiatan di sekolah,” jelasnya.
Eli mengaku bangga atas pencapaian tersebut. Ia menilai keberhasilan ini lahir dari kolaborasi yang solid antara tenaga pendidik, peserta didik, dan orang tua.
“Ini hasil kerja bersama. Guru, siswa, dan orang tua terlibat. Alhamdulillah, jerih payah itu membuahkan hasil,” katanya.
Baca Juga : GLMPK Salurkan Bantuan Kursi untuk Siswa SMA YBHM, Pendidikan Tidak Boleh Jadi Korban dari Konflik Apa Pun
Ke depan, pihak sekolah berkomitmen menjaga keberlanjutan program lingkungan agar tidak berhenti pada seremoni penyerahan piala.
Eli berharap upaya tersebut dapat diperluas hingga memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar.
“Kami ingin tetap konsisten dan terus bekerja sama dengan semua pihak, bukan hanya di sekolah, tapi juga di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Selain dikenal sebagai sekolah berwawasan lingkungan, SDN 2 Cigedug juga aktif menorehkan prestasi di berbagai ajang akademik dan nonakademik, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.
Setiap tahun, sekolah ini rutin mengikuti kompetisi seperti Festival Lomba Seni (FLS), U2SN, dan TBI, dengan hasil yang relatif stabil.
“Hampir setiap tahun kami ikut lomba, dan alhamdulillah selalu ada prestasi,” ungkap Eli.
Deretan capaian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter, khususnya kepedulian terhadap lingkungan, tidak harus mengorbankan mutu akademik.
Di saat sebagian pihak masih sibuk merumuskan program hijau di balik meja rapat, SDN 2 Cigedug membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang kelas dan halaman sekolah. Tanpa banyak slogan, mereka memilih menanam pohon, merawat lingkungan, dan menuai prestasi.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










