Di saat baliho prestasi masih terpajang dan slogan pembinaan atlet terus digaungkan, sosok yang pernah berjuang di lapangan justru harus berjuang sendirian di rumah.
Dukungan dari rekan sesama atlet pun terbilang minim. Nama Siti perlahan tenggelam bersama berakhirnya sorak-sorai pertandingan dan dokumentasi seremoni.
Baca Juga : Dari Longsor ke Pabrik Sepatu Limbangan: Negara Baru Sadar Lahan Itu Bukan Karpet Merah Investor
Dalam kondisi fisik yang lemah dan tekanan psikologis yang berat, Siti hanya bisa berharap pada kepedulian pihak lain.
“Saya cuma ingin sehat lagi. Dulu saya bertanding bawa nama Garut, sekarang saya berharap ada yang peduli,” ucapnya lirih.
Saat ini, Siti masih memerlukan tindakan medis lanjutan, termasuk pemeriksaan lanjutan dengan peralatan khusus. Namun, persoalan biaya kembali menjadi penghalang utama yang belum terjawab.
Kisah Siti menjadi potret nyata tentang nasib sebagian atlet daerah setelah lampu sorot prestasi dipadamkan. Saat podium sudah kosong dan medali mulai berdebu, perhatian pun ikut menghilang.
Di tengah gencarnya narasi pembinaan olahraga dan pencetakan juara, kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang tanggung jawab negara terhadap para atletnya. Apakah penghargaan hanya berlaku selama mereka masih kuat bertanding?
Lebih dari sekadar cerita sakit, kasus ini mencerminkan persoalan keberpihakan, empati, dan keberlanjutan perlindungan bagi insan olahraga. Sebab, prestasi seharusnya tidak berhenti di panggung, tetapi berlanjut dalam jaminan hidup yang manusiawi.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










