DLH masih berupaya menelusuri siapa pihak yang membuang sampah tersebut, termasuk berkoordinasi dengan pemilik lahan dan aparat lingkungan setempat.
“Kami masih menggali informasi dari warga dan pihak terkait mengenai asal sampah ini,” katanya.
Dedi menjelaskan, pemeriksaan awal bermula dari laporan masyarakat terkait dugaan pembuangan limbah medis ilegal. Setelah dilakukan inspeksi, dugaan tersebut tidak terbukti.
“Plastik kuningnya memang ada, tapi isinya sayuran sisa, dipakai untuk pakan maggot,” ujarnya.
Namun, saat penyisiran lanjutan, petugas justru menemukan potongan uang yang diduga asli.
“Itu benar uang kertas, dan berdasarkan pengamatan, asli,” kata Dedi.
Baca Juga : Dari Longsor ke Pabrik Sepatu Limbangan: Negara Baru Sadar Lahan Itu Bukan Karpet Merah Investor
Penemuan tersebut membuat warga sekitar terkejut. Sekretaris Umum Prabu Peduli Lingkungan Foundation, Rido Satriyo, mengaku baru pertama kali melihat uang berakhir di TPS.
“Kaget. Jumlahnya banyak, meski sudah dicacah,” ujarnya.
Menurut Rido, temuan itu pertama kali diketahui pada 28 Januari. Potongan uang ditemukan di dalam dan luar karung, bahkan mencapai ratusan karung.
“Kalau dilihat, seperti mau dipakai urugan,” katanya.
Rido menilai perhatian pemerintah selama ini terlalu fokus pada asal-usul uang, sementara persoalan utama TPS liar justru luput dari perhatian.
“Kenapa tempat pembuangan ilegal ini bisa lama dibiarkan? Kok baru ramai setelah ada uang?” kritiknya.
Bank Indonesia (BI) turut merespons temuan tersebut. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan pihaknya sedang berkoordinasi dengan instansi terkait.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










