“Pemeriksaan harus transparan dan bisa diawasi, termasuk lewat CCTV. Kalau tidak, itu bisa diuji lewat praperadilan,” tegasnya.
Menatap tantangan ke depan, Dedi menekankan tiga kunci: integritas personal, peningkatan kapasitas keilmuan, dan kekompakan organisasi. Ia menolak logika “salah tapi dibiarkan”. Bagi Dedi, kesalahan prosedur harus diperbaiki, bukan dinormalisasi.
“Kalau ada yang keliru, jangan didiamkan. Itu tugas kita sebagai advokat,” katanya.
Di awal masa jabatannya, Dedi berencana merapikan dapur internal sebelum tancap gas ke program-program organisasi. Agenda yang disiapkan mencakup perekrutan anggota, pendidikan dan ujian advokat, penyumpahan, seminar, hingga pendidikan lanjutan.
Singkatnya, Peradi SAI Sukabumi memasuki babak baru, advokat diminta tak hanya fasih bicara hukum, tetapi juga berani mengetuk meja saat keadilan mulai goyah.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










