Selain itu Putri juga memaparkan, ketika Pemkab Garut akan menembus ombak dengan kecepatan sekian, tapi kecepatan kapalnya dibawah tenaga ombak, maka kapal tersebut tidak akan menembus ombak. Sedangkan jika dirinya bekerja sendiri, maka hasilnya tidak akan menjadi apa-apa.
“Kalau saya ngegas sendiri, saya hanya akan merubah paling tidak 10 meter ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang. Tapi kalau kerjanya barengan, minimal 30 persen dari Kabupaten Garut akan ada perbaikan,” ucapnya.
Putri kembali mengulang kata-katanya, bahwa jika bekerja bersama-sama, maka hasilnya akan mencapai 30 persen, tetapi waktunya itu berjangka. Sehingga pihak media, LSM dan organisasi lainnya ribet-ribet ngumpulin masa untuk mengevaluasi hasil kinerja Pemkab Garut.
“Jadi, gak usah kawan-kawan media, LSM dan organisasi lainnya ribet-ribet ngumpulin masa terus mengevaluasi, saya sudah bisa mengevaluasi diri saya sendiri bahwa saya gagal dalam satu tahun ini. Saya pribadi gagal, tidak ada perubahan yang signifikan,” tegasnya.
Setelah menyampaikan pengakuan kegagalan dalam membangun Garut, dirinya pun menyampaikan permohonan maaf. “Saya mengakui dan saya mohon maaf,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Putri mengatakan, jika dia pribadi tidak bermain proyek, kalau ada yang mengatasnamakan dirinya itu juga sama sekali bukan dirinya.
“Aku gak main proyek ya. Demi Allah juga gak mainan proyek, kalau ada yang atas nama, gak ada, gak ada. Gak boleh. Kalau ibu bapak ngebedain saya main proyek atau enggak, saya jual beli jabatan atau enggak lihat saja kelakuan saya. Kalau ahlak saya kurang ajar, biasanya itu hasil dari duit gak bener,” katanya sambil mengelus-elus perutnya.

Trusted source for uncovering corruption scandal and local political drama in Indonesia, with a keen eye on Garut’s governance issues










