EkonomiInternasional

Konflik Israel–Iran Picu Kenaikan Harga Emas dan Minyak, Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp17.000

rakyatdemokrasi
×

Konflik Israel–Iran Picu Kenaikan Harga Emas dan Minyak, Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp17.000

Sebarkan artikel ini
Konflik Israel–Iran Picu Kenaikan Harga Emas dan Minyak, Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp17.000 locusonline featured image Mar
ucapan selamat Hari Jadi Garut ke 213

[Locusonline.co] JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Israel dan Iran yang mencapai titik kulminasi baru, mengguncang pasar keuangan global. Investor berbondong-bondong meninggalkan aset berisiko dan memburu instrumen safe haven, memicu lonjakan harga emas dan minyak mentah dunia, serta memberikan tekanan signifikan terhadap nilai tukar rupiah.

Pada Sabtu (28/2/2026), harga emas dunia ditutup di level US$ 5.280 per troy ounce, sementara harga emas batangan di dalam negeri menembus Rp 3.085.000 per gram. Para analis memprediksi tren ini masih akan berlanjut seiring meningkatnya ketegangan geopolitik.

tempat.co

Emas dan Minyak Melonjak, Konflik Buka Babak Baru

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kegagalan pertemuan delegasi Amerika Serikat dan Iran di Jenewa, Swiss, serta serangan balasan antara Israel dan Iran, telah membuka babak baru konflik di Timur Tengah.

“Ini bisa menjadi babak baru konflik di Timur Tengah pada Maret 2026. Dampaknya, kemungkinan besar harga emas naik, logam mulia naik, rupiah melemah. Kemudian kalau harga minyak mentah naik, nah ini akan berdampak terhadap turunannya,” ujar Ibrahim.

Menurutnya, dalam situasi risk-off seperti saat ini, investor global cenderung menghindari aset berisiko dan memburu instrumen aman, termasuk emas dan dolar AS. Akibatnya, rupiah berpotensi terdepresiasi menuju Rp 17.000 per dolar AS apabila ketegangan terus meningkat.

Proyeksi Harga Emas

KomoditasHarga Saat IniResisten 1Potensi Eskalasi
Emas DuniaUS$ 5.280/ozUS$ 5.365/ozUS$ 5.500/oz
Emas AntamRp 3.085.000/grRp 3.150.000/grRp 3.400.000/gr

Dampak ke Indonesia: Bukan Jalur Perdagangan, tapi Energi dan Keuangan

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, memberikan perspektif penting. Ia menegaskan bahwa dampak konflik Israel–Iran terhadap Indonesia tidak datang dari jalur perdagangan langsung, mengingat nilai perdagangan Indonesia-Iran relatif kecil, hanya sekitar US$ 200 juta per tahun.

“Secara angka perdagangan, perdagangan langsung Indonesia–Iran hanya sekitar 200 juta dolar AS per tahun, sangat kecil untuk ukuran ekonomi Indonesia. Jadi, konflik tidak akan menjatuhkan ekspor Indonesia. Yang berbahaya bukan trade channel, tetapi oil channel,” ujar Rizal.

Indonesia sebagai net importir migas akan langsung merasakan dampak dari kenaikan harga minyak dunia melalui beberapa kanal krusial:

1. Tekanan pada APBN (Fiscal Channel)

Kenaikan harga minyak akan memperbesar kebutuhan kompensasi dan subsidi energi. Hal ini secara langsung mempersempit ruang fiskal pemerintah. “Artinya, tekanan pertama bukan pada ketersediaan energi, melainkan pada APBN,” tegas Rizal.

2. Tekanan Inflasi (Monetary Channel)

Lonjakan harga minyak berisiko memicu imported inflation melalui kenaikan harga BBM, tarif transportasi, dan logistik pangan. Kondisi ini akan mempersulit Bank Indonesia dalam mengelola inflasi.

3. Pelemahan Rupiah dan Capital Outflow (Financial Channel)

Ketika pasar global masuk mode risk-off, arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang (termasuk Indonesia) dan beralih ke aset aman di AS. Akibatnya:

  • Rupiah tertekan.
  • Ruang penurunan suku bunga domestik menjadi terbatas (BI cenderung memprioritaskan stabilitas nilai tukar).
  • Yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat, memperbesar biaya utang pemerintah dan korporasi.

4. Perlambatan Sektor Riil

Transmisi dari tekanan moneter dapat berujung pada perlambatan kredit dan investasi, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi.

Dampak bagi Indonesia

KanalDampak
Perdagangan (Trade)Minimal. Nilai ekspor ke Iran kecil (US$ 200 juta/th).
Energi (Oil)Signifikan. Indonesia net importir → biaya impor migas naik, subsidi membengkak.
FiskalTertekan. APBN terbebani oleh kenaikan subsidi dan kompensasi energi.
MoneterTerbatas. BI prioritaskan stabilitas rupiah, suku bunga sulit diturunkan.
KeuanganVolatil. Arus modal keluar, yield SBN naik, biaya utang meningkat.
Sektor RiilTerhambat. Potensi perlambatan kredit dan investasi.

Kesimpulan: Ancaman Nyata di Depan Mata

Eskalasi konflik Timur Tengah bukan sekadar berita geopolitik jauh di sana. Bagi Indonesia, ini adalah ancaman nyata yang bekerja melalui kanal energi dan keuangan. Jika konflik berkepanjangan dan harga minyak bertahan tinggi, tekanan simultan terhadap fiskal, rupiah, dan biaya pembiayaan ekonomi berpotensi menjadi risiko makroekonomi yang jauh lebih serius dibandingkan dampak langsung perdagangan.

Pemerintah dan Bank Indonesia dituntut untuk semakin waspada dan menyiapkan bantalan (buffer) yang memadai guna mengantisipasi gejolak yang mungkin timbul. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow