“Selat Hormuz sebagai titik krusial dan konflik yang belum mereda, pasar energi kini bergerak bukan hanya mengikuti grafik permintaan dan penawaran, tetapi juga perkembangan di medan geopolitik.”
LOCUSONLINE, GARUT – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran bukan hanya menggetarkan medan militer, tetapi juga membuat pelaku pasar energi siaga penuh. Harga minyak mentah diproyeksikan melonjak saat perdagangan dibuka, seiring kekhawatiran gangguan pasokan global akibat eskalasi konflik.
Gelombang serangan udara besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Peristiwa tersebut memicu respons balasan dan meningkatkan risiko ketidakstabilan di kawasan produsen energi utama dunia.
Dikutip dari CNBC, pasar memperkirakan peluang 79% bahwa harga minyak mentah Amerika Serikat akan menembus setidaknya USD 73 per barel. Pada penutupan Jumat sebelumnya, harga minyak mentah AS berada di level USD 67,02 per barel, setelah mencatat kenaikan sekitar 17% sepanjang tahun ini.
Sementara itu, minyak mentah Brent patokan internasional ditutup pada USD 73,21 per barel, naik sekitar 20% sejak awal tahun. Kenaikan tersebut dipicu ekspektasi risiko geopolitik yang membayangi pasokan.
Ketidakpastian juga muncul terkait kepemimpinan produsen minyak terbesar keempat di OPEC pasca-eskalasi. Reaksi pasar dalam beberapa hari mendatang sangat bergantung pada situasi di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global. Jika konflik mengganggu arus kapal tanker secara berkepanjangan, tekanan harga diperkirakan akan semakin besar.
Baca Juga : Umrah di Tengah Rudal: 58 Ribu Jemaah RI Diminta Tetap Tenang
Analis UBS, Henri Patricot, menyatakan bahwa kecepatan pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz serta intensitas respons Iran akan menjadi faktor penentu arah harga minyak dalam waktu dekat.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












