Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan operasi militer akan berlanjut hingga seluruh tujuan tercapai. Namun, ia juga membuka kemungkinan dialog dengan Iran, yang dinilai dapat menjadi jalur de-eskalasi dan meredam gangguan pasokan energi global.
Di sisi lain, lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz dilaporkan nyaris terhenti karena perusahaan pelayaran mengambil langkah pencegahan. Analis minyak Kpler, Matt Smith, menyebut sejumlah kapal tanker mulai berlabuh, tetapi belum banyak yang melintas sepenuhnya di jalur tersebut.
Data Kpler mencatat lebih dari 14 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz sepanjang 2025, setara sekitar sepertiga ekspor minyak mentah global via laut. Mayoritas pengiriman menuju negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
UBS memperingatkan kemungkinan gangguan signifikan yang dapat mendorong harga spot Brent melampaui USD 120 per barel jika situasi memburuk. Dengan Selat Hormuz sebagai titik krusial dan konflik yang belum mereda, pasar energi kini bergerak bukan hanya mengikuti grafik permintaan dan penawaran, tetapi juga perkembangan di medan geopolitik.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












