Karena itu, ia menilai berbagai langkah pengamanan pasokan yang dilakukan Pertamina mulai dari produksi kilang hingga impor merupakan strategi penting agar cadangan tidak terganggu.
Salah satu langkah yang dinilai cukup strategis adalah keputusan pemerintah dan Pertamina untuk mengalihkan sebagian sumber impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke wilayah lain yang lebih stabil secara geopolitik. Di tengah memanasnya situasi Teluk, opsi impor dari negara seperti Brazil atau United States dinilai sebagai langkah realistis.
“Selama kawasan tersebut relatif jauh dari konflik, itu pilihan yang cukup aman,” kata Tauhid.
Selama ini, sekitar 20 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Saudi Arabia. Selain itu, pasokan juga didatangkan dari negara Afrika seperti Nigeria dan Angola.
Di tengah meningkatnya ketegangan global terutama konflik yang melibatkan Iran dengan United States dan Israel permintaan minyak dunia diperkirakan akan semakin kompetitif. Karena itu, Tauhid menyarankan agar kontrak impor segera diamankan sebelum harga minyak melonjak lebih tinggi.
Ia mengingatkan bahwa jika harga minyak mentah menembus 100 dolar AS per barel dari posisi sekitar 78 dolar saat ini tekanan terhadap anggaran negara akan semakin berat. Kondisi tersebut berpotensi memperlebar defisit anggaran hingga melampaui batas 3 persen.
Selain mengamankan kontrak impor, pemerintah juga disarankan meningkatkan kapasitas cadangan nasional hingga mampu bertahan satu hingga dua bulan. Langkah itu dianggap penting untuk mengantisipasi gangguan distribusi global, termasuk kemungkinan terganggunya jalur pelayaran energi dunia.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










