Dari sisi fiskal, pemerintah juga mencatat peningkatan pendapatan negara. Pada Januari 2026 penerimaan negara tumbuh 9,5 persen secara tahunan, sementara pada Februari meningkat 12,8 persen. Peningkatan tersebut terutama ditopang oleh penerimaan pajak yang mencatat pertumbuhan lebih dari 30 persen pada dua bulan pertama tahun ini.
Menurut Deni, percepatan belanja negara tetap dilakukan secara terukur agar mampu menjaga momentum pertumbuhan tanpa mengorbankan kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menilai keputusan Fitch mempertahankan peringkat BBB menunjukkan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Ia menyebut perubahan outlook tidak serta-merta mencerminkan pelemahan kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, perekonomian Indonesia tetap memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian global.
Perry menambahkan stabilitas sistem keuangan masih terjaga, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang relatif rendah. Selain itu, perkembangan digitalisasi sistem pembayaran dan infrastruktur keuangan dinilai turut mendukung aktivitas ekonomi domestik.
Dengan kata lain, meski Fitch sudah menyalakan lampu kuning, mesin ekonomi Indonesia dinilai masih berjalan. Pertanyaannya kini sederhana: apakah pengemudi kebijakan akan tetap menjaga arah, atau justru menambah kecepatan di tikungan yang belum sepenuhnya jelas.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












