Langkah lain yang disiapkan mencakup penyebaran informasi kewaspadaan kepada pekerja migran, pengaktifan jalur pengaduan khusus bagi wilayah Timur Tengah, serta penyusunan panduan keselamatan yang dapat diakses oleh para PMI.
Baca Juga : Minyak RI Ketar-Ketir Karena 19 Persen Tergantung Jalur Panas Selat Hormuz
Mukhtarudin juga mengimbau para pekerja migran Indonesia di kawasan tersebut untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Ia meminta para PMI menghindari wilayah yang berpotensi berisiko serta membatasi aktivitas di luar kebutuhan mendesak.
Pemerintah juga meminta para pekerja migran untuk selalu mengikuti arahan dari kedutaan atau konsulat Indonesia terdekat. Jika menghadapi situasi darurat, para PMI diminta segera melapor kepada perwakilan RI agar dapat segera mendapatkan bantuan.
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang, pemerintah juga membuka kemungkinan pemulangan bagi pekerja migran yang memilih kembali ke Indonesia. Proses kepulangan, menurut Mukhtarudin, akan difasilitasi sesuai prosedur yang berlaku.
Selain dukungan administratif, kementerian juga menyiapkan layanan pendampingan psikologis, termasuk fasilitas konsultasi daring bagi pekerja migran yang membutuhkan bantuan selama menghadapi situasi yang tidak menentu.
Dengan kata lain, di saat konflik internasional menjadi berita utama dunia, pemerintah memastikan satu hal: pekerja migran Indonesia di Timur Tengah masih dalam kondisi aman namun kewaspadaan tetap menjadi mata uang utama menghadapi situasi yang bisa berubah kapan saja.******

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












