[Locusonline.co] JAKARTA – Apple baru saja meluncurkan MacBook Neo, laptop macOS termurah sepanjang sejarah dengan harga mulai USD 599 (sekitar Rp 10 juta). Kejutan terbesarnya bukan hanya harga, tetapi juga penggunaan chip A18 Pro, prosesor yang sebelumnya menjadi jantung dari iPhone 16 Pro dan Pro Max. Banyak yang meragukan langkah berani Apple ini, mengingat lini Mac selama ini identik dengan chip M-series yang lebih bertenaga.
Namun, data benchmark terbaru justru membungkam para peragu. Hasil pengujian menunjukkan bahwa chip A18 Pro di MacBook Neo mampu melampaui performa Apple M1, prosesor legendaris yang menjadi tulang punggung Mac sejak 2020.
Hasil Benchmark: A18 Pro Bantai M1, Hampir Salip M2
Berdasarkan data dari Geekbench 6 yang dilansir dari CultofMac, berikut perbandingan skor benchmark A18 Pro dengan chip Apple lainnya dan prosesor pesaing:Prosesor Single-Core Score Multi-Core Score Catatan Apple A18 Pro 3.445 8.624 Digunakan di MacBook Neo Apple M1 2.323 8.186 Chip Mac generasi pertama Apple Silicon Apple M2 ~2.587 ~9.644 Sedikit di atas A18 Pro (multi-core) Intel N100 – ~3.129 Prosesor entry-level laptop Windows 
Kesimpulan dari data ini sangat mengejutkan:
- A18 Pro unggul telak atas M1, baik di skor single-core (3.445 vs 2.323) maupun multi-core (8.624 vs 8.186).
- Performa multi-core A18 Pro hanya terpaut tipis dari M2 (8.624 vs ~9.644). Jarak yang tidak terlalu jauh menunjukkan bahwa A18 Pro masih sangat kompeten untuk laptop entry-level.
- A18 Pro jauh melampaui prosesor entry-level Windows seperti Intel N100, yang skor multi-core-nya hanya sekitar 3.129.
Artinya, dalam pengujian lintas platform tersebut, chip yang awalnya dirancang untuk iPhone itu mampu mengungguli prosesor Mac generasi pertama berbasis Apple Silicon.
Mengapa Apple Memasang Chip iPhone di MacBook?
Penggunaan chip A-series di MacBook sebenarnya bukan tanpa alasan. Baik seri A maupun M sama-sama dibangun menggunakan arsitektur ARM yang dikembangkan Apple. Perbedaan utamanya terletak pada skala dan konfigurasi.
- Chip M-series (M1, M2, M3, dst.) biasanya memiliki lebih banyak inti CPU dan GPU, bandwidth memori lebih tinggi, serta dukungan RAM yang lebih besar. Dirancang untuk performa berkelanjutan dalam waktu lama.
- Chip A-series (A18 Pro) dirancang lebih efisien untuk perangkat mobile, tetapi tetap memiliki performa tinggi berkat desain silikon Apple yang luar biasa.
Pada MacBook Neo, A18 Pro hadir dengan konfigurasi:
- CPU enam inti (2 performance core hingga ~4,04 GHz + 4 efficiency core ~2,42 GHz)
- GPU lima inti
- Neural Engine 16-core untuk tugas kecerdasan buatan (AI)
Kombinasi ini memungkinkan MacBook Neo menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari dengan sangat lancar: browsing web, streaming video, pengolahan dokumen, hingga pengeditan foto ringan.
RAM 8 GB: Cukupkah untuk Pengguna Target?
Apple membekali MacBook Neo dengan 8 GB unified memory. Kapasitas ini sempat menuai kritik karena dianggap terlalu kecil untuk standar laptop modern. Namun, Apple tampaknya memiliki target pasar yang sangat jelas.
MacBook Neo ditujukan untuk:
- Pelajar yang membutuhkan laptop untuk mengerjakan tugas, mengetik makalah, dan penelitian online.
- Pengguna rumahan yang ingin browsing, streaming film (Netflix, Disney+), dan media sosial.
- Pemilik iPhone yang ingin mencoba ekosistem macOS dengan harga lebih terjangkau.
Untuk kebutuhan sehari-hari seperti di atas, konfigurasi 8 GB RAM masih dianggap sangat memadai. Bagi pengguna yang membutuhkan performa lebih tinggi untuk pekerjaan berat (pengembangan aplikasi, rendering video 4K/8K, menjalankan mesin virtual), Apple tetap menyediakan pilihan di lini MacBook Air dan MacBook Pro dengan chip M-series yang lebih bertenaga.
Implikasi: Masa Depan MacBook Entry-Level

Keberhasilan A18 Pro di MacBook Neo membuka kemungkinan baru bagi Apple. Di masa depan, bukan tidak mungkin Apple akan lebih sering menggunakan chip A-series yang lebih baru dan lebih hemat biaya untuk lini entry-level mereka, sementara chip M-series tetap menjadi andalan untuk segmen profesional dan high-end.
Strategi ini memungkinkan Apple untuk:
- Menawarkan harga yang lebih kompetitif di segmen entry-level.
- Memperluas pangsa pasar dengan menjaring pengguna baru yang selama ini menggunakan Chromebook atau laptop Windows murah.
- Memanfaatkan skala ekonomi dari produksi chip A-series dalam jumlah besar untuk iPhone.
MacBook Neo bukan sekadar laptop murah. Dengan chip A18 Pro yang performanya melampaui M1 dan mendekati M2, perangkat ini menawarkan nilai luar biasa di kelasnya. Hasil benchmark Geekbench 6 membuktikan bahwa Apple tidak sekadar “menurunkan” chip iPhone ke Mac, tetapi menghadirkan prosesor yang sangat kompeten dan efisien.
Bagi konsumen Indonesia, MacBook Neo dengan harga sekitar Rp10 juta menjadi pintu masuk yang sangat menarik ke ekosistem Apple, terutama bagi pelajar, pengguna rumahan, dan mereka yang sudah memiliki iPhone. (**)












