ArtikelNasionalNewsOpiniPolitik

Masuk Board of Peace: Antara Diplomasi Luwes dan Kecurigaan Publik

bhegins
×

Masuk Board of Peace: Antara Diplomasi Luwes dan Kecurigaan Publik

Sebarkan artikel ini
Gemini Generated Image fgwkl2fgwkl2fgwk
Gambar Ilustrasi Istimewa

Dalam kajian Hubungan Internasional, situasi semacam ini sering dijelaskan melalui pendekatan realisme. Perspektif ini memandang negara bertindak terutama berdasarkan kepentingan nasional serta perhitungan kekuatan dalam sistem internasional yang bersifat kompetitif.

Namun perkembangan teori menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri tidak semata ditentukan oleh tekanan struktur global. Cara para pemimpin menafsirkan perubahan geopolitik juga memainkan peran penting.

tempat.co

Pendekatan yang dikenal sebagai Neoclassical Realism menjelaskan bahwa kebijakan luar negeri lahir dari interaksi antara tekanan sistem internasional dan pertimbangan domestik para elite politik.

Jika dilihat dari sudut pandang tersebut, langkah Indonesia memperluas keterlibatan dalam berbagai forum global menjadi lebih mudah dipahami. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia tidak hanya aktif di forum tradisional seperti ASEAN dan G20, tetapi juga memperluas jaringan diplomasi dengan bergabung dalam sejumlah platform baru.

Salah satunya adalah keterlibatan dalam BRICS, organisasi yang beranggotakan negara-negara seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Langkah tersebut bahkan sempat menarik perhatian Donald Trump, yang menyoroti implikasi geopolitiknya.

Dalam kerangka yang sama, keputusan menuju Board of Peace dapat dipandang sebagai bagian dari strategi memperluas ruang manuver diplomasi Indonesia di panggung global.

Dalam literatur hubungan internasional, strategi seperti ini sering disebut sebagai strategic hedging yakni upaya negara menjaga fleksibilitas dengan menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan sekaligus tanpa sepenuhnya mengikatkan diri pada satu blok tertentu.

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow