Program kompensasi ini disebut pemerintah sebagai upaya menjaga kelancaran lalu lintas tanpa mengorbankan penghasilan masyarakat kecil. Walau demikian, bagi sebagian sopir angkot, kusir delman, atau penarik becak, keputusan berhenti bekerja tetap terasa seperti paradoks: diminta libur demi kelancaran negara, lalu diberi uang agar dapur tetap menyala.
Pada akhirnya, kebijakan ini menjadi potret klasik setiap musim mudik: jalanan harus lancar, wisata harus ramai, dan rakyat kecil seperti biasa diminta sedikit mengalah sambil berharap dua lembar uang merah cukup menemani suasana Lebaran di rumah.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









