Pandangan Eropa terhadap kepemimpinan Trump pun kian memburuk. Hubungan transatlantik sebelumnya sudah tegang setelah Trump melontarkan gagasan kontroversial untuk mengambil alih wilayah Greenland dari Denmark sekutu dalam NATO. Kebijakan luar negeri bertajuk America First juga membuat Washington menarik diri dari sejumlah forum internasional, mempertebal kesan bahwa kepentingan nasional kini menjadi satu-satunya kompas.
Baca Juga : Hormuz Dikunci, Trump Turunkan Armada: Pokoknya Minyak Harus Ngalir
Di sisi lain, mantan pejabat keamanan nasional AS, Nadia Schadlow, menilai konflik Iran menunjukkan keterbatasan lembaga multilateral seperti United Nations dalam mencegah perang. Dalam praktiknya, negara tetap bertindak sepihak ketika merasa keamanan nasionalnya terancam.
Tanda-tanda keengganan sekutu pun mulai terlihat di lapangan. Inggris, yang dipimpin Perdana Menteri Keir Starmer, hanya mengizinkan pesawat tempur Amerika menggunakan dua pangkalan militernya untuk tujuan defensif di kawasan bukan untuk operasi serangan.
Sikap lebih tegas datang dari Spanyol. Perdana Menteri Pedro Sánchez menolak memberi akses pangkalan militer bagi pasukan AS. Ia menegaskan konflik tersebut bukan perang negaranya.
Reaksi itu membuat Trump geram. Presiden AS tersebut melontarkan kritik keras kepada Starmer dan bahkan mengancam memutus hubungan dagang dengan Madrid.
Menurut Kausch, dinamika tersebut mengirim pesan yang cukup jelas ke panggung internasional: Amerika Serikat di bawah Trump tampak semakin percaya diri bertindak di luar kerangka hukum global, bahkan tanpa merasa perlu menjelaskan atau membenarkannya.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












