Situasi itu juga memperkuat kekhawatiran Eropa bahwa kepemimpinan Trump berpotensi mendorong Amerika menuju isolasi diplomatik. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengikis apa yang selama ini disebut sebagai “kekuatan lunak” Washington.
Meski demikian, tidak semua negara menutup pintu dukungan. Perdana Menteri Anthony Albanese dari Australia menyatakan dukungan terbuka terhadap operasi tersebut. Sikap serupa juga datang dari pemerintah Argentina dan Paraguay.
Di sisi lain, Perdana Menteri Mark Carney dari Kanada menyatakan dukungan terhadap upaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir, namun tetap mendesak agar konflik tidak semakin meluas.
Presiden Emmanuel Macron dari Prancis justru mengambil posisi berbeda. Ia menilai serangan terhadap Iran bertentangan dengan hukum internasional dan berpotensi memperburuk stabilitas kawasan.
Di tengah dinamika tersebut, sejumlah analis menilai konflik ini bisa membawa keuntungan strategis bagi China. Peneliti dari Center for a New American Security, Jacob Stokes, menyebut perang di Timur Tengah berpotensi menguras persediaan senjata Amerika persediaan yang sebenarnya dipersiapkan untuk menghadapi potensi konflik di Taiwan.
Selain itu, menurut Stokes, Beijing juga bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk mengamati secara langsung bagaimana militer Amerika menjalankan operasi perang modern.
Bagi China, konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat menjadi peluang strategis. Semakin lama Washington terseret dalam pusaran konflik kawasan, semakin besar pula ruang manuver bagi Beijing di panggung geopolitik global.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












