“Kami sudah mengantisipasi stok BBM menjelang Hari Raya Idul Fitri. Insyaallah semua aman, termasuk LPG. Jadi tidak perlu ada keraguan sekalipun terjadi dinamika global di Iran dan Israel,” ujarnya.
Koordinasi lintas kementerian dan lembaga juga terus dilakukan untuk memastikan distribusi energi tetap berjalan lancar selama masa libur panjang.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama yang berdampak pada jalur strategis perdagangan energi seperti Selat Hormuz, turut menjadi perhatian pemerintah.
Selama ini sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah. Namun untuk mengantisipasi gangguan pasokan, pemerintah mulai mengalihkan sumber impor dari wilayah lain seperti Afrika, Australia, dan Amerika Serikat.
“Pasokan minyak mentah untuk kilang dalam negeri tetap terjaga karena sumber impor sudah dialihkan dari negara-negara yang tidak melalui Selat Hormuz,” jelas Bahlil.
Untuk kebutuhan BBM jenis bensin seperti RON 90, RON 92, RON 95, dan RON 98, Indonesia sebagian besar mengimpor dari kawasan Asia Tenggara. Dengan jalur pasokan tersebut, dampak langsung konflik Timur Tengah terhadap jenis BBM ini dinilai relatif kecil.
Sementara itu, untuk bahan bakar jenis solar, pemerintah menyatakan Indonesia tidak lagi bergantung pada impor karena kebutuhan nasional telah dipenuhi oleh produksi kilang domestik.
Cadangan BBM nasional saat ini disebut berada pada kisaran 23 hari kebutuhan. Pemerintah berupaya menjaga angka tersebut agar tidak turun di bawah batas aman 21 hari.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












