Upaya pencarian korban melibatkan 336 personel gabungan dari berbagai instansi. Tim menggunakan alat berat untuk menggali timbunan sampah yang menumpuk di area longsor.
Menurut Ramli, proses pencarian masih terus dilakukan karena data sementara menunjukkan masih ada kemungkinan korban lain yang tertimbun.
“Pendataan masih berlangsung karena laporan kehilangan dari keluarga belum sepenuhnya terverifikasi,” ujarnya.
Baca Juga : Kulit Garut Mau Go Global, Akademisi Datang Membawa Peta Mimpi
Gubernur Jakarta Pramono Anung menjelaskan longsor terjadi pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu sejumlah truk sedang mengantre untuk membongkar muatan sampah.
Tanpa peringatan, timbunan sampah yang menjulang tiba-tiba runtuh dan menimpa lima truk serta satu warung di sekitar lokasi.
Peristiwa terjadi di Zona 4 kawasan TPST Bantargebang. Longsoran bahkan menutup jalan operasional dan aliran Sungai Ciketing sepanjang sekitar 40 meter.
Hujan lebat yang berlangsung cukup lama disebut menjadi salah satu pemicu runtuhnya timbunan sampah yang sudah menumpuk puluhan meter itu.
Sebagai langkah sementara, pemerintah daerah menutup operasional Zona 4A dan mengurangi pengiriman sampah ke Bantargebang. Sebagian aktivitas dialihkan ke Zona 3 dan dua area baru yang sedang disiapkan.
Namun langkah itu lebih menyerupai menata ulang tumpukan masalah lama. Pasalnya, Jakarta setiap hari menghasilkan sekitar 7.400 hingga 8.000 ton sampah yang sebagian besar masih bergantung pada Bantargebang sebagai tempat pembuangan utama.
Pemerintah daerah mengaku akan meningkatkan pemilahan sampah agar tidak semuanya berakhir di lokasi tersebut. Di saat yang sama, proyek pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif melalui fasilitas RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara terus diuji coba. Fasilitas itu diklaim mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”











