Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, mengingatkan bahwa proses pencarian korban harus dilakukan dengan hati-hati.
Prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan di wilayah Jabodetabek dalam beberapa hari ke depan, yang dapat memicu pergerakan material longsor susulan.
Ia meminta tim di lapangan menjalankan protokol keselamatan secara ketat agar proses pencarian tidak menimbulkan korban baru.
Tragedi runtuhnya timbunan sampah setinggi sekitar 50 meter di Bantargebang dinilai sebagai tanda kegagalan sistemik pengelolaan sampah Jakarta.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan peristiwa tersebut menjadi peringatan keras agar metode pembuangan terbuka atau open dumping segera dihentikan.
Menurutnya, sistem tersebut tidak lagi mampu menjamin keselamatan warga maupun petugas yang bekerja di sekitar lokasi.
TPST Bantargebang sendiri telah menampung sekitar 80 juta ton sampah selama lebih dari tiga dekade. Beban tersebut membuat kawasan itu berada pada kondisi kritis, baik dari sisi keselamatan maupun pencemaran lingkungan.
Metode open dumping yang masih digunakan juga dinilai bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, karena tidak lagi mampu mengendalikan risiko bencana.
Catatan kelam Bantargebang bukanlah cerita baru. Longsor permukiman pernah terjadi pada 2003, diikuti runtuhnya Zona 3 pada 2006 yang menimbun puluhan pemulung. Insiden lain kembali terjadi pada Januari 2026 ketika landasan amblas dan menyeret tiga truk sampah ke sungai.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”











