Program pembangunan tiga juta rumah setiap tahun disebut sebagai strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Teorinya memang menjanjikan: satu rumah yang dibangun bisa menggerakkan lebih dari 180 sektor industri, mulai dari semen hingga sofa ruang tamu. Dalam teori ekonomi, efeknya seperti domino. Dalam praktiknya, domino itu kadang baru jatuh setelah bertahun-tahun.
Baca Juga : Reuni Para Penguasa: Antara Nostalgia Kekuasaan dan Ujian Kebijaksanaan
Selain lahan hibah di Cikarang, pemerintah juga menyiapkan sejumlah lokasi lain untuk pengembangan hunian vertikal. Salah satunya di Depok yang direncanakan memanfaatkan sekitar 45 hektare lahan untuk pembangunan ratusan ribu unit rumah. Targetnya terdengar besar dan tentu saja akan lebih menarik lagi jika kelak benar-benar berdiri.
Menteri PKP Maruarar Sirait menyampaikan apresiasi kepada pendiri Lippo Group Muchtar Riady beserta keluarga yang memberikan hibah lahan tersebut. Ia menilai langkah itu bukan sekadar komitmen bisnis, melainkan wujud kepedulian terhadap masyarakat berpenghasilan rendah.
Menurut Ara sapaan akrabnya pembangunan di atas lahan 30 hektare tersebut akan dilakukan secara bertahap. Jika semua berjalan sesuai rencana, kawasan itu diproyeksikan dapat menampung sekitar 140 ribu unit apartemen bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai kunjungan ke lokasi menjadi langkah awal untuk memastikan pengembangan kawasan hunian dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta agar penyediaan hunian yang layak dan terjangkau benar-benar bisa diwujudkan.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









