[Locusonline.co] BANDUNG – Suasana khidmat Safari Ramadan ke-17 di Masjid Agung Bandung, Sabtu (7/3/2026), menjadi momentum bagi Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, untuk menyampaikan pesan krusial. Di hadapan masyarakat Kecamatan Lengkong, ia mengingatkan bahwa ibadah puasa harus selaras dengan kepedulian terhadap lingkungan, terutama dalam menghadapi darurat sampah kota.
Farhan memaparkan data yang mencengangkan. Setiap harinya, Kota Bandung memproduksi sekitar 1.500 ton sampah. Namun, kapasitas pengolahan yang ada baru mampu menangani sekitar 300 ton per hari.
“Artinya ada sekitar 1.200 ton sampah yang harus kita kurangi dari sumbernya, yaitu dari rumah tangga,” ujarnya tegas.
Kang Pisman dan Buruan Sae: Senjata Melawan Gunung Sampah
Untuk menekan angka fantastis tersebut, Pemerintah Kota Bandung terus menggencarkan dua program unggulan: Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) dan Buruan Sae (pertanian perkotaan).
Farhan menjelaskan bahwa kedua program ini kini diarahkan untuk membentuk sistem ekonomi sirkular. Sampah organik dari rumah tangga tidak lagi dibuang, tetapi diolah menjadi kompos yang kemudian digunakan untuk menyuburkan tanaman produktif di lingkungan warga.
“Ramadan ini harus kita jadikan momentum untuk membangun gaya hidup yang ramah lingkungan, mulai dari mengurangi sampah, menanam tanaman produktif di rumah, hingga menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.
“Eco Ramadan”: Ibadah dan Lestari Berjalan Beriringan
Wali Kota memperkenalkan konsep “Eco Ramadan,” sebuah ajakan untuk menjalankan ibadah puasa dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Ia ingin masyarakat memahami bahwa menjaga bumi adalah bagian dari iman.
“Dengan mengurangi sampah, kita tidak hanya meringankan beban kota, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai kebersihan yang diajarkan dalam Islam,” imbuhnya.
Beban Kota yang Terus Membengkak
Farhan juga mengingatkan bahwa daya dukung lingkungan Kota Bandung yang hanya seluas sekitar 170 kilometer persegi sejatinya hanya ideal untuk menampung sekitar satu juta penduduk. Kenyataannya, jutaan jiwa telah memadati kota ini.
“Jumlah penduduk yang tinggal di kota ini diperkirakan telah mencapai lebih dari dua juta jiwa. Karena itu, kita semua harus lebih peduli agar Bandung tetap nyaman dan layak huni,” pungkasnya.
Di tengah ibadah dan refleksi diri, Wali Kota Farhan menyelipkan pesan yang sangat relevan dengan masa depan kota. Bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perilaku konsumtif yang menghasilkan gunungan sampah.
Dengan semangat “Eco Ramadan”, warga Bandung diajak untuk memulai perubahan dari hal kecil: memilah sampah, menanam sayur di pekarangan, dan menjaga kebersihan lingkungan. Karena masa depan kota yang nyaman dan layak huni ada di tangan warganya sendiri. (**)













