Menurut IMO, tiga serangan terjadi pada 2 Maret. Masing-masing menewaskan satu awak kapal di Skylight, MKD Vyom, dan Stena Imperative. Pada hari yang sama, kapal Hercules Star juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Gelombang serangan tidak berhenti di situ. Antara 3 hingga 5 Maret, empat kapal lain ikut masuk daftar korban, yakni Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, serta Sonangol Namibe.
Tragedi paling mematikan terjadi pada 6 Maret ketika kapal Mussafah 2 dihantam serangan yang menewaskan empat orang. Insiden tersebut semakin menguatkan kesan bahwa perairan Hormuz sedang berubah dari jalur perdagangan menjadi wilayah yang dipenuhi ancaman tak terduga.
ABK Indonesia Turut Terseret
Pemerintah Indonesia sebelumnya mengumumkan bahwa kapal dengan ciri dan posisi terakhir yang sesuai dengan Mussafah 2 dilaporkan tenggelam. Kementerian Luar Negeri menyatakan tiga anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia masih dinyatakan hilang.
Satu WNI dilaporkan selamat meski mengalami luka, sementara empat awak kapal lainnya dari negara berbeda berhasil bertahan hidup.
Perusahaan keamanan maritim Vanguard mengungkapkan kapal Mussafah 2 terkena dua rudal ketika mencoba menolong kapal kontainer Safeen Prestige, yang dua hari sebelumnya lebih dulu diserang. Upaya kemanusiaan itu justru berujung petaka sebuah pengingat pahit bahwa bahkan tindakan menolong di perairan konflik kini bisa berubah menjadi undangan bahaya.
Baca Juga : Ketika Ekonomi China Melambat, Indonesia Ikut Menahan Napas
Risiko bagi Kapal Penolong
Situasi tersebut memicu kekhawatiran baru di kalangan pelayaran internasional. Kapal yang berusaha melakukan penyelamatan ternyata juga berpotensi menjadi target berikutnya.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









