Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Centre/JMIC) yang dikelola koalisi angkatan laut Barat mengeluarkan peringatan terkait pola ini.
“Laporan insiden terbaru menunjukkan kapal yang memberikan bantuan atau operasi penyelamatan kepada kapal yang diserang juga dapat menghadapi peningkatan risiko serangan lanjutan,” tulis JMIC dalam catatan resminya.
Dalam analisis lembaga tersebut, serangan yang terjadi tampaknya memiliki pola tertentu. Target tidak selalu dihancurkan hingga tenggelam, tetapi cukup dibuat lumpuh atau terancam.
“Pola serangan terhadap kapal yang berlabuh, hanyut, atau melakukan bantuan menunjukkan kampanye yang bertujuan menciptakan ketidakpastian operasional serta menghambat pergerakan komersial rutin,” jelas JMIC.
Ancaman, Bantahan, dan Diplomasi yang Tersendat
Serangan drone dan rudal yang disebut berasal dari Garda Revolusi Iran tidak selalu dapat diverifikasi secara independen. Dalam beberapa kasus, konfirmasi baru muncul beberapa hari kemudian, sementara identitas kapal sasaran sering kali tetap dirahasiakan.
Pada 2 Maret, seorang jenderal Garda Revolusi Iran sempat melontarkan ancaman keras. Ia menyatakan Iran siap “membakar setiap kapal” yang mencoba melintasi selat tersebut dan menutup seluruh ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Namun nada berbeda disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Ia menegaskan negaranya “tidak memiliki niat” untuk menutup Selat Hormuz sebuah pernyataan yang bagi sebagian pengamat terdengar seperti ironi diplomatik di tengah rentetan serangan yang masih terjadi.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









