Dunia Mulai Menghitung Risiko
Di tengah situasi yang makin tegang, Amerika Serikat mulai mempertimbangkan langkah militer untuk memastikan jalur pelayaran tetap terbuka. Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan pemerintahnya siap mengawal kapal dagang yang melintas di selat tersebut.
Pengawalan, katanya, akan dilakukan “secepat mungkin setelah situasinya memungkinkan”.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengungkapkan upaya membangun koalisi internasional guna mengamankan jalur laut tersebut sebuah langkah yang disebut penting demi melindungi perdagangan global.
Jalur Energi Dunia yang Mendadak Sepi
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai urat nadi energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global serta gas alam cair biasanya melewati jalur sempit itu setiap hari.
Namun meningkatnya ancaman keamanan membuat aktivitas pelayaran merosot tajam. Perusahaan analisis energi Kpler, yang mengoperasikan platform pelacakan kapal MarineTraffic, melaporkan lalu lintas tanker di kawasan tersebut turun hingga 90 persen hanya dalam satu minggu.
Data pelacakan menunjukkan hanya sembilan kapal komersial termasuk tanker, kapal kargo, dan kontainer yang terdeteksi melintasi selat sejak awal pekan. Beberapa kapal bahkan terpantau mematikan sistem pelacak posisi mereka, sebuah langkah yang biasanya dilakukan ketika laut terasa lebih menegangkan daripada medan perang.
Pada akhirnya, Selat Hormuz kini menghadirkan ironi global: jalur yang selama ini menggerakkan ekonomi dunia berubah menjadi wilayah penuh ancaman. Di sana, kapal dagang bukan lagi sekadar pembawa komoditas, melainkan peserta tak sengaja dalam permainan geopolitik yang risikonya jauh lebih besar dari sekadar harga minyak.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









