Dampaknya bukan perkara kecil. Data dari Energy Information Administration menunjukkan sekitar 20 persen konsumsi minyak mentah dunia diangkut melalui jalur laut ini. Lebih dari 80 persen pengiriman tersebut mengalir menuju Asia terutama China, India, dan Jepang yang menjadikan selat itu semacam “keran energi” bagi kawasan tersebut.
Bila selat itu benar-benar ditutup, yang terhambat bukan hanya minyak mentah. Pengiriman bahan bakar penerbangan dan gas alam cair (LNG) juga ikut tersendat. Sekitar 30 persen bahan bakar avtur untuk Eropa serta 20 persen LNG dunia melintas di jalur sempit ini. Dengan kata lain, satu selat kecil memegang kunci bagi mesin ekonomi global yang jauh lebih besar.
Sejumlah negara besar sebenarnya memiliki bantalan darurat. Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, Inggris, Jepang, hingga Kanada menyimpan cadangan energi strategis yang cukup untuk menahan guncangan pasokan dalam beberapa minggu. Namun cadangan hanya menunda masalah, bukan menyelesaikannya.
Baca Juga : Harga Minyak Dunia Naik, Rupiah Terengah, dan APBN Ikut Berkeringat
Bagi Iran sendiri, blokade selat justru bisa memperdalam luka ekonominya. Selain menghambat ekspor energi dari negara-negara Teluk ke Barat, langkah tersebut juga berpotensi mengganggu ekspor minyak Iran yang sebagian besar mengalir ke China dan India dua pasar yang kini menjadi napas utama ekonominya.
Hubungan Iran dengan sanksi Barat sebenarnya bukan cerita baru. Sejak Revolusi Islam Iran 1979, berbagai pembatasan ekonomi telah menekan sektor energinya. Tekanan itu diperkuat oleh sanksi internasional terkait program nuklir antara 2006 hingga 2015.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









