LOCUSONLINE, GARUT – Ketakutan yang selama ini hanya beredar di meja analis energi akhirnya menjelma kenyataan. Harga minyak dunia melompat melewati angka psikologis 100 dolar AS per barel seolah pasar energi ikut panik menyaksikan konflik Timur Tengah yang makin gaduh.
Dalam perdagangan awal pekan, minyak acuan global melonjak tajam. Harga minyak jenis Brent sempat menyentuh 116 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menempel di angka yang sama sebelum akhirnya sedikit menurunkan napas. Penutupan perdagangan mencatat Brent di sekitar 110,8 dolar AS per barel dan WTI di kisaran 108 dolar AS.
Lonjakan harga ini datang tidak lama setelah Amerika Serikat bersama sekutunya, Israel, melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Respons Teheran tak kalah dramatis: menutup akses di Selat Hormuz jalur laut sempit yang selama ini menjadi pintu keluar bagi sekitar 20 persen minyak mentah dunia atau sekitar 17 juta barel per hari.
Bukan hanya arus pengiriman yang terganggu. Sejumlah fasilitas produksi minyak dan gas di kawasan Teluk Persia ikut terdampak. Beberapa bahkan berhenti beroperasi sementara. Negara-negara produsen seperti Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait terpaksa menurunkan produksi karena ekspor tersendat, membuat tangki penyimpanan minyak mereka nyaris penuh.
Sementara itu, Israel juga melancarkan serangan terhadap depot minyak di Teheran dengan alasan fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung peluncuran rudal. Di tengah kekacauan ini, China tetap menjadi pembeli utama minyak Iran sekaligus pelanggan penting energi dari kawasan Teluk.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










