Menurutnya, industri otomotif Jepang siap menyesuaikan teknologi kendaraan dengan arah kebijakan energi yang tengah dikembangkan pemerintah Indonesia, khususnya dalam upaya menurunkan emisi sektor transportasi.
Selain sektor otomotif, kerja sama kedua negara juga berkembang di bidang energi baru dan terbarukan melalui kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Beberapa proyek telah memasuki tahap pembiayaan dan pembangunan.
Proyek tersebut antara lain pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi Muara Laboh, pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Legok Nangka, serta proyek pembangkit listrik tenaga air di wilayah Kalimantan Utara.
Kedua pihak juga membahas peluang kerja sama di sektor industri strategis lainnya, termasuk pengembangan sumber daya mineral dan energi melalui peran Japan Organization for Metals and Energy Security (JOGMEC), lembaga yang dibentuk oleh Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.
Melalui kerja sama tersebut, Jepang melihat potensi besar Indonesia dalam mendukung keamanan ekonomi kawasan, terutama dalam penguatan rantai pasok industri teknologi seperti semikonduktor.
Pertemuan ini menegaskan bahwa kemitraan Indonesia dan Jepang tidak lagi sekadar hubungan dagang biasa. Di tengah kompetisi industri global, keduanya berupaya membangun kolaborasi yang lebih luas mulai dari kendaraan, energi, hingga teknologi masa depan.
Bagi Indonesia, kerja sama ini menjadi peluang untuk mempercepat transformasi industri. Sementara bagi Jepang, kemitraan tersebut menjadi pintu strategis untuk tetap relevan dalam peta rantai pasok global yang terus berubah.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









