LOCUSONLINE, GARUT – Ketika rudal mulai beterbangan di Timur Tengah, yang paling cepat merasakan dampaknya bukan hanya militer di garis depan, melainkan juga pengendara yang berdiri pasrah di depan pompa bensin. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini mulai mengguncang ekonomi global, dengan efek yang terasa langsung pada harga bahan bakar di berbagai negara.
Sejak operasi militer terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026, sedikitnya 85 negara melaporkan lonjakan harga bensin. Kenaikan tersebut membuat biaya berkendara melonjak dan memperpanjang daftar kekhawatiran ekonomi yang muncul dari konflik geopolitik.
Di Amerika Serikat sendiri, harga bensin rata-rata yang sebelumnya berada di kisaran 2,94 dolar AS per galon pada Februari kini naik menjadi sekitar 3,58 dolar AS per galon. Artinya, hanya dalam waktu singkat harga bahan bakar melonjak sekitar 20 persen. Data ini dihimpun oleh lembaga pemantau harga energi milik American Automobile Association melalui sistem pemantauan AAA Fuel Prices.
Walau harga bahan bakar di AS ditentukan oleh masing-masing negara bagian, beberapa wilayah kini mencatat harga lebih dari 4 dolar AS per galon. Bahkan di California, harga bensin telah menembus 5 dolar AS per galon angka yang terakhir kali terlihat lebih dari dua tahun lalu.
Data yang dihimpun oleh platform pemantau energi Global Petrol Prices menunjukkan lonjakan harga bensin terjadi di puluhan negara hanya dalam hitungan hari setelah konflik pecah. Beberapa negara bahkan mencatat kenaikan yang cukup tajam dalam waktu kurang dari dua minggu.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









