ArtikelEkonomiInternasionalNewsPolitik

Ketika Rudal Terbang, Harga BBM di 10 Negara Ikut Melayang

bhegins
×

Ketika Rudal Terbang, Harga BBM di 10 Negara Ikut Melayang

Sebarkan artikel ini
Gemini Generated Image 5qnz645qnz645qnz
Gambar Ai

Berikut sejumlah negara dengan lonjakan harga bensin paling tinggi sejak konflik dimulai:

  • Vietnam: naik dari 0,75 dolar menjadi 1,13 dolar per liter (49,73%)
  • Laos: 1,34 → 1,78 dolar per liter (32,94%)
  • Kamboja: 1,11 → 1,32 dolar per liter (19,03%)
  • Australia: 1,11 → 1,31 dolar per liter (18,23%)
  • Amerika Serikat: 0,87 → 1,01 dolar per liter (16,55%)
  • Jerman: 2,08 → 2,36 dolar per liter (13,3%)
  • Seychelles: 1,34 → 1,52 dolar per liter (13,04%)
  • Guatemala: 1,04 → 1,17 dolar per liter (12,9%)
  • Lebanon: 0,91 → 1,02 dolar per liter (12,25%)
  • Nigeria: 0,59 → 0,66 dolar per liter (11,78%)

Vietnam tercatat sebagai negara dengan lonjakan paling tajam, hampir 50 persen hanya dalam waktu sekitar dua minggu. Namun analis energi memperkirakan angka ini belum final, karena sebagian negara baru menyesuaikan harga bahan bakar pada akhir bulan.

tempat.co

Baca Juga :
Hormuz di Bibir Ancaman, Iran di Persimpangan

Dampak konflik ini terasa paling kuat di kawasan Asia. Banyak negara di wilayah tersebut sangat bergantung pada pasokan energi yang melewati Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi rute utama ekspor minyak Timur Tengah ke pasar global.

Gangguan pada jalur ini langsung mengancam stabilitas energi berbagai negara di Asia Timur. Jepang misalnya, mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan minyaknya dari kawasan Teluk, sementara Korea Selatan bergantung sekitar 70 persen pada sumber energi yang sama.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Jepang pada 8 Maret memerintahkan fasilitas penyimpanan minyak nasional untuk bersiap melepas cadangan strategis jika situasi memburuk. Sementara itu, Korea Selatan sehari kemudian menetapkan batas harga maksimum untuk bensin dan solar kebijakan yang belum pernah diterapkan selama hampir tiga dekade.

Dampak konflik bahkan lebih terasa di negara-negara Asia Selatan yang memiliki cadangan energi lebih terbatas dan kondisi fiskal yang lebih rapuh.

Di Bangladesh, pemerintah mengambil langkah drastis dengan menutup seluruh universitas negeri dan swasta untuk menghemat energi. Sementara di Pakistan, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan penghematan, termasuk pekan kerja empat hari bagi kantor pemerintah, penutupan sekolah, serta kebijakan bekerja dari rumah bagi sebagian pegawai.

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow