LOCUSONLINE, GARUT – Langit Timur Tengah kembali menjadi arena adu pesan yang dikirim bukan lewat meja perundingan, melainkan melalui rudal. Pada Kamis (12/3), Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran mengumumkan peluncuran operasi militer gabungan bersama kelompok bersenjata Hezbollah dari wilayah Lebanon menuju sejumlah target di Israel.
Dalam pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Iran, operasi tersebut disebut sebagai serangan “terintegrasi”, di mana Iran meluncurkan rudal secara langsung sementara Hezbollah menambah tekanan melalui tembakan rudal dan drone dari wilayah Lebanon.
Serangan gabungan ini terjadi di tengah konflik terbuka antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Menurut keterangan Garda Revolusi, lebih dari 50 target militer di Israel menjadi sasaran operasi tersebut. Beberapa di antaranya disebut berada di kota strategis seperti Haifa, Tel Aviv, dan Beersheba.
Selain itu, Iran juga mengklaim telah menargetkan instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk pangkalan di Al-Kharj, Arab Saudi, serta pangkalan militer di Al-Azraq di Yordania.
Namun hingga laporan ini disampaikan, belum ada laporan kerusakan signifikan di wilayah Arab Saudi maupun Yordania. Media internasional melaporkan bahwa sistem peringatan serangan udara sempat aktif di beberapa lokasi, tetapi otoritas setempat menyatakan tidak ada serangan yang benar-benar mengenai wilayah mereka.
Baca Juga : Rudal, Retorika, dan Realitas Perang: Janji Sejati yang Terbang Tinggi, Kengerian yang Mendarat Keras
Sementara itu, militer Israel melalui Israel Defense Forces menyatakan telah mendeteksi sejumlah rudal yang diluncurkan dari wilayah Iran menuju wilayah Israel. Sistem pertahanan udara negara tersebut langsung diaktifkan untuk mencegat proyektil yang masuk.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










