Ia menilai Indonesia memiliki banyak sumber energi alternatif yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Salah satunya adalah bahan bakar nabati yang berasal dari komoditas pertanian seperti kelapa sawit, tebu, singkong, dan jagung.
Bahan-bahan tersebut, menurut Presiden, dapat diolah menjadi berbagai jenis energi, termasuk biodiesel dan bioetanol. Pemanfaatan sumber daya tersebut dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Baca Juga : Menjelang Libur Lebaran, DPR Ngebut Bahas RUU: Dari Pekerja Rumah Tangga sampai Satu Data
Selain bahan bakar nabati, Indonesia juga memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan lainnya. Di antaranya adalah energi panas bumi dan tenaga air yang tersebar di berbagai wilayah.
Dalam rencana pengembangan energi bersih, pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit tenaga surya dengan kapasitas hingga 100 gigawatt dalam dua tahun mendatang.
Target tersebut tergolong ambisius karena setara dengan sekitar 100 ribu megawatt kapasitas listrik baru. Untuk merealisasikannya, pemerintah memperkirakan kebutuhan lahan mencapai sekitar 100 ribu hektare.
Selain proyek tenaga surya, pemerintah juga menyoroti potensi sumber energi baru dari sektor gas alam. Salah satu temuan besar berada di kawasan Laut Andaman di lepas pantai utara Aceh.
Ladang gas tersebut rencananya akan dikembangkan oleh perusahaan energi Mubadala Energy dalam waktu dekat.
Pemerintah juga menargetkan pembukaan ladang gas besar lainnya, yakni proyek Blok Masela yang selama ini dikenal sebagai salah satu cadangan gas terbesar di Indonesia.
Dengan berbagai sumber daya energi yang dimiliki, Prabowo meyakini Indonesia memiliki kapasitas yang cukup untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









