Ia menggambarkan kondisi tersebut dengan analogi tajam: menyerahkan pasokan energi kepada pihak lain hampir sama seperti menyerahkan kendali hidup kepada orang lain.
Di sisi lain, situasi global yang tidak stabil ini justru dinilai bisa menjadi peluang untuk mempercepat pengembangan energi alternatif.
Menurut Deendarlianto, selama ini pengembangan energi terbarukan sering tersendat karena harga energi fosil relatif lebih murah.
Baca Juga : Ketika Rudal Terbang, Harga BBM di 10 Negara Ikut Melayang
Namun ketika harga minyak dunia melonjak, energi terbarukan mulai terlihat lebih kompetitif secara ekonomi.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi percepatan pengembangan biodiesel, bioetanol, serta berbagai sumber energi alternatif lainnya.
Ia juga menilai momentum ini dapat mendorong peningkatan riset dan inovasi di sektor energi, khususnya melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri.
Menurutnya, riset dasar yang selama ini berkembang di kampus harus segera diarahkan menuju riset terapan agar dapat digunakan secara langsung oleh sektor industri.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kemandirian energi nasional dalam jangka panjang.
Deendarlianto menegaskan bahwa arah kebijakan politik energi Indonesia akan sangat menentukan masa depan sektor energi nasional.
Jika pemerintah berani mengambil langkah strategis untuk keluar dari ketergantungan energi impor, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk membangun kedaulatan energi sendiri.
Ia juga menilai momentum ini seharusnya dimanfaatkan oleh dunia akademik dan lembaga riset untuk mempercepat pengembangan teknologi energi terbarukan yang siap diterapkan dalam skala industri.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










