Video yang diunggah melalui platform Truth Social memperlihatkan serangan terhadap fasilitas bandara serta landasan pacu pulau tersebut.
Pejabat militer AS mengatakan target operasi mencakup bunker penyimpanan rudal, fasilitas penyimpanan ranjau laut, dan berbagai infrastruktur militer lainnya.
Media Iran melalui kantor berita Fars News Agency melaporkan lebih dari 15 ledakan terjadi di pulau itu.
Namun pemerintah Iran menegaskan fasilitas minyak tetap tidak mengalami kerusakan.
Meski demikian, ancaman dari Washington tetap menggantung: jika Iran terus memblokir kapal di Selat Hormuz, infrastruktur energi Kharg bisa menjadi sasaran berikutnya.
5. Risiko Eskalasi Energi Global
Para analis menilai menyerang fasilitas energi Iran dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas.
Teheran bahkan telah memperingatkan bahwa serangan terhadap industri energinya akan dibalas dengan menyerang fasilitas minyak milik sekutu Amerika di kawasan.
Sinyal tersebut juga disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Islam yang mengancam akan menyasar infrastruktur minyak dan gas di wilayah Teluk.
Menurut analis energi dari Kpler, Muyu Xu, jika terminal minyak Kharg benar-benar rusak, Iran mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga lebih dari satu tahun untuk memulihkannya.
Salah satu negara yang kemungkinan merasakan dampak paling besar adalah China, yang selama ini menjadi pembeli utama minyak Iran.
Bayang-Bayang Operasi Militer Lebih Besar
Sementara itu, Washington dilaporkan sedang mengirim unit marinir respons cepat ke kawasan Timur Tengah.
Pasukan tersebut terdiri dari sekitar 2.500 marinir dan pelaut yang tergabung dalam satuan ekspedisi laut.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










