[Locusonline.co] BANDUNG – Kabar duka masih menyelimuti dunia pendidikan Kota Bandung. Pasca meninggalnya Muhammad Fahdly Arjasubrata, siswa SMAN 5 Bandung dalam insiden di Jalan Cihampelas, Jumat (13/3/2026), Pemerintah Kota Bandung bergerak cepat. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memastikan akan memperketat pembinaan dan pengawasan terhadap aktivitas pelajar, terutama kelompok-kelompok tongkrongan yang kerap berkumpul di luar jam sekolah.
“Saya sangat prihatin dan sangat berduka atas wafatnya anak kita ini. Dugaan sementara karena kecelakaan, tetapi tentu harus dipastikan melalui penyelidikan yang tuntas sehingga kita mengetahui penyebab sebenarnya dan siapa yang bertanggung jawab,” ujar Farhan di Plaza Balai Kota Bandung, Sabtu (14/3/2026).
Duka Seorang Ayah
Lebih dari sekadar pernyataan resmi, Farhan menyampaikan empati yang mendalam sebagai sesama orang tua. Ia membayangkan betapa perihnya kehilangan anak di usia remaja.
“Sebagai seorang ayah, kehilangan putra di usia 16 tahun adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Saya ikut merasakan kehilangan yang luar biasa yang dirasakan orang tua korban,” katanya.
Kelompok Tongkrongan Teridentifikasi, Akan Dibina
Atas peristiwa ini, Pemkot Bandung akan memperkuat koordinasi dengan Polrestabes Bandung. Fokusnya bukan hanya pada penegakan hukum, tetapi juga pencegahan. Salah satu sasaran utamanya adalah kelompok-kelompok pelajar yang kerap nongkrong di warung-warung sekitar sekolah.
“Dari informasi yang kami dapatkan, ada beberapa kelompok anak-anak SMA yang berkumpul di warung-warung dekat sekolah. Ini sedang kami identifikasi dan akan menjadi perhatian untuk dilakukan pembinaan,” jelas Farhan.
Peran Kunci Kepala Sekolah
Farhan menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan kepolisian. Sekolah, melalui para kepala sekolah, memiliki peran yang sangat vital.
“Tanpa informasi dari kepala sekolah, pemerintah kota dan kepolisian tidak bisa melakukan pencegahan secara maksimal,” ujarnya.
Pemkot akan mengajak para kepala sekolah untuk memperkuat komunikasi dan berbagi informasi terkait dinamika para pelajar. Dengan data yang akurat, intervensi bisa dilakukan lebih dini.
Miris: Pelajar Nongkrong Sambil Miras
Farhan juga mengingatkan hasil patroli bersama aparat keamanan sekitar setahun lalu. Temuannya sangat mengkhawatirkan: sejumlah pelajar SMP dan SMA kedapatan nongkrong hingga larut malam sambil mengonsumsi minuman keras dan obat keras.
Fenomena ini, menurutnya, adalah alarm bahaya yang harus segera ditangani secara serius dan berkelanjutan.
Tragedi di Cihampelas ini menjadi titik balik. Pemerintah, kepolisian, sekolah, dan orang tua harus bahu-membahu mengawasi dan membimbing remaja. Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan pendekatan yang lebih humanis dan preventif. Jangan sampai ada lagi orang tua yang harus kehilangan anaknya karena kelalaian kita bersama. (**)












