Sementara kepada Beijing, Trump juga menyampaikan pesan serupa. Ia menyebut rencana pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping pada akhir bulan ini dapat saja batal apabila China tidak menunjukkan dukungan terhadap upaya menjaga jalur pelayaran tersebut.
Ketegangan kawasan juga meningkat setelah Trump sebelumnya melontarkan ancaman terhadap Pulau Kharg, lokasi terminal ekspor utama Iran yang menjadi pusat pengiriman sebagian besar minyak mentah negara tersebut.
Trump sempat menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menghancurkan sejumlah aset militer di wilayah itu, meskipun ia menegaskan target serangan bukan fasilitas energi.
Pernyataan tersebut memicu respons keras dari Iran. Teheran kemudian meluncurkan serangkaian serangan drone terhadap fasilitas minyak di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk peringatan.
Pemerintah Iran sebelumnya telah menyatakan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi mereka akan dibalas dengan menargetkan fasilitas minyak di kawasan yang lebih luas.
Melihat eskalasi konflik tersebut, Trump pada Sabtu (14/3/2026) mendesak sejumlah negara besar termasuk Eropa, China, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengirim kapal guna mengawal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz.
Seruan itu juga disampaikan melalui akun media sosial miliknya di Truth Social, di mana ia menekankan bahwa negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut perlu berkontribusi menjaga keamanan rute energi global.
Di tengah gejolak geopolitik dan pasar energi yang sensitif, pesan Washington terdengar cukup lugas: minyak boleh mengalir ke seluruh dunia, tetapi menjaga jalurnya bukan lagi tugas satu negara saja.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










