Baca Juga : Minyak Naik, Gedung Putih Panik: Trump Minta Dunia Ikut Buka Selat Hormuz
Presiden Prabowo Subianto bahkan mengingatkan kembali masa pandemi COVID-19, ketika kebijakan serupa dianggap berhasil menekan konsumsi BBM secara signifikan.
“Dulu kita atasi Covid berhasil. Banyak bekerja dari rumah, efisiensi. Kita menghemat BBM dalam jumlah besar,” ujarnya.
Ia juga membuka kemungkinan pengurangan hari kerja sebagai opsi tambahan, sebuah gagasan yang bagi sebagian pekerja terdengar seperti kabar baik, meski bagi sektor produktivitas bisa menjadi bahan diskusi panjang.
Pemerintah menegaskan bahwa langkah-langkah ini masih dalam tahap pembahasan dan bertujuan sebagai antisipasi jika krisis energi global benar-benar terjadi. Posisi resmi, tidak panik, tapi juga tidak lengah.
Di satu sisi, kebijakan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengelola energi. Di sisi lain, publik mungkin mulai bertanya: apakah solusi hemat energi terbaik memang dengan mengurangi aktivitas, atau justru mempercepat transformasi energi secara lebih fundamental?
Untuk sementara, satu hal yang pasti, jika BBM harus dihemat, maka bukan hanya mesin yang diminta irit manusia pun tampaknya ikut diminta menyesuaikan ritme.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










