Di Jakarta, markaz Gedung PBNU mencatat ketinggian hilal hanya sekitar 1 derajat 43 menit, dengan elongasi di bawah ambang batas. Dengan kata lain, hilal hadir tetapi belum cukup “percaya diri” untuk disaksikan.
Berdasarkan kondisi tersebut, LF PBNU mendorong agar Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga Idul Fitri diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
“Kalau secara hisab belum memenuhi syarat, lalu ada yang mengaku melihat, maka kesaksian itu ditolak. Ini bukan soal keyakinan pribadi, tapi disiplin ilmiah,” tegas KH Sirril.
Di tengah tarik-menarik antara data dan keinginan, publik kini menunggu satu hal: apakah langit akan tetap diikuti, atau justru ditafsirkan ulang agar sesuai harapan di bumi.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










