“Ini memang proses yang sudah berjalan. Kita sisir ulang mana yang tidak produktif,” ujarnya.
Pernyataan ini seolah ingin menegaskan bahwa efisiensi bukan reaksi panik, melainkan bagian dari perencanaan, meski waktunya kebetulan beririsan dengan situasi global yang tidak menentu.
Antara Efisiensi dan Prioritas
Kebijakan ini memperlihatkan arah prioritas pemerintah: menjaga program yang menyentuh langsung masyarakat tetap berjalan, sambil memangkas hal-hal yang selama ini mungkin dianggap “wajib” namun tidak selalu berdampak nyata.
Di tengah upaya menyeimbangkan anggaran, pemerintah tampaknya ingin menyampaikan pesan sederhana: yang dikurangi adalah perjalanan dan seremoni, bukan kebutuhan dasar rakyat.
Setidaknya untuk saat ini, nasi tetap di piring yang dikurangi hanya agenda di kalender.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”













