“Persaingan pasti lebih ketat. Profesionalisme jadi kunci. Jangan sampai kalah hanya karena tarif tidak masuk akal atau pelayanan yang mengecewakan,” kata Ato, mengingatkan bahwa wisatawan kini tak hanya membawa koper, tapi juga ulasan digital.
Baca Juga : Hemat Energi Ala Negara: Dari Evaluasi BBM hingga Wacana WFH, Bekerja Lebih Sedikit Demi Bensin Lebih Lama
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi pengembangan pariwisata. Promosi, menurutnya, tidak bisa lagi dilakukan secara individual, melainkan harus menyasar kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, bahkan melampaui batas provinsi.
Di sisi lain, Ato mengingatkan agar momentum libur Lebaran tidak dimanfaatkan secara berlebihan oleh pelaku usaha untuk menaikkan harga. Imbauan ini terdengar seperti pengakuan halus bahwa praktik “aji mumpung” masih menjadi godaan laten di musim ramai.
“Jangan menaikkan harga berlebihan. Jangan memanfaatkan situasi,” tegasnya.
PHRI Garut juga mengusung semangat “bangkit”, yang menurut Ato bukan sekadar slogan organisasi, melainkan dorongan agar pelaku usaha benar-benar meningkatkan kualitas, bukan hanya mempercantik narasi.
Di tengah geliat persiapan ini, satu hal menjadi catatan bahwa wisatawan mungkin datang dengan ekspektasi tinggi, namun yang menentukan apakah mereka kembali atau sekadar cukup sekali tetap bergantung pada konsistensi pelayanan, bukan janji tahunan yang berulang.
Garut, sekali lagi, bersiap menyambut tamu. Tinggal menunggu, apakah yang datang pulang dengan kenangan manis atau sekadar pengalaman yang “lumayan, tapi ya sudah”.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










