[Locusonline.co] USA — Langkah militer Amerika Serikat di Timur Tengah memasuki babak baru yang tak bisa diabaikan. Divisi Lintas Udara ke-82 (82nd Airborne Division), unit tempur paling elit dan paling cepat yang dimiliki Pentagon, sedang disiapkan untuk dikerahkan ke kawasan tersebut.
Ini bukan sekadar pergerakan pasukan biasa. 82nd Airborne dikenal sebagai Global Response Force—pasukan yang bisa dikerahkan ke mana saja di dunia dalam hitungan jam. Mereka adalah unit pertama yang masuk Afghanistan setelah 9/11, pertama yang memasuki Irak, dan selalu menjadi ujung tombak setiap kali Amerika membutuhkan respons militer cepat. Ketika pasukan ini bergerak, itu adalah sinyal bahwa situasi telah memasuki tingkat keseriusan yang berbeda.
Dan ini terjadi di atas 8.000 lebih marinir yang sudah dalam perjalanan. Sebelumnya, tiga kapal angkatan laut yang membawa sekitar 2.200 marinir telah diberangkatkan dari California, menandai pengiriman unit kedua sejak konflik dimulai. Satu unit lainnya, yang sebelumnya dialihkan dari kawasan Pasifik, masih dalam perjalanan menuju Timur Tengah.
Kontradiksi Trump: “Wind Down” di Media, Eskalasi di Lapangan
Letakkan semua ini dalam konteks yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Presiden Donald Trump memposting di Truth Social bahwa perang “hampir menang” dan sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri (wind down) operasi militer besar-besaran di Timur Tengah terkait Iran .
“Kami semakin dekat untuk mencapai tujuan kami saat kami mempertimbangkan untuk mengakhiri upaya militer besar kami di Timur Tengah,” tulis Trump di Truth Social pada Jumat (20/3) .
Namun di saat yang bersamaan, ia juga menyatakan tidak menginginkan gencatan senjata. “Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda benar-benar meluluhlantakkan pihak lain,” ujar Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih .
Kontradiksi ini—mengirim ribuan marinir dan menyiapkan 82nd Airborne di satu sisi, sambil berbicara tentang “wind down” di sisi lain—bukanlah tanda seseorang yang sedang de-eskalasi. Ini adalah pola eskalasi.
Seperti yang dikatakan Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, peran Pentagon adalah memastikan Presiden memiliki “opsi maksimal” dalam setiap krisis. Dan persiapan ini, menurutnya, belum menandakan keputusan final .
Pola Historis yang Berulang: Dari Kecil Menjadi Perang Panjang
Yang perlu dipahami adalah pola historis yang sudah berulang berkali-kali. Vietnam dimulai kecil, lalu eskalasi. Afghanistan dimulai kecil, lalu eskalasi. Irak dimulai kecil, lalu eskalasi. Semuanya berakhir dengan cara yang tidak sesuai rencana awal .
Pakar pertahanan dari Brookings Institution, Michael O’Hanlon, mengingatkan bahwa tugas-tugas seperti pendudukan atau penyerbuan darat “membawa risiko korban jiwa yang besar dan tidak ada langkah selanjutnya yang jelas untuk mempercepat pergantian rezim atau mendorong Iran bersedia berunding mengakhiri permusuhan” .
Yang membuat situasi ini lebih berbahaya adalah ketiadaan strategi keluar yang jelas. Seperti yang ditulis oleh jurnalis senior di CBS News, ada kekhawatiran bahwa misi ini bisa berakhir seperti Vietnam, Afghanistan, dan Irak—operasi yang awalnya terbatas tetapi akhirnya berubah menjadi perang berkepanjangan yang menyeret Amerika selama bertahun-tahun .
Peta Konflik Terkini: Semakin Melebar
Sekarang, konflik ini sudah jauh dari sekadar serangan udara terbatas. Houthi telah masuk perang, meluncurkan drone dan rudal ke arah Israel dan Arab Saudi. Arab Saudi mulai mengancam opsi militer. Qatar dilaporkan mengalami kerugian hingga 20 miliar dolar dan sudah tidak bisa lagi bersikap netral. Jalur Hormuz masih belum terbuka. Iran menolak semua ajakan gencatan senjata dari Amerika .
Bahkan Iran mengeluarkan peringatan keras kepada negara tetangga. Komando Pusat Operasi Militer Iran memperingatkan Uni Emirat Arab untuk tidak membiarkan wilayahnya digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran, mengancam akan meluncurkan “serangan dahsyat” ke wilayah Ras Al-Khaimah jika itu terjadi .
Seorang pejabat militer Iran juga menyatakan bahwa invasi darat ke wilayah Iran adalah “garis merah yang tak boleh dilampaui” dan akan memberikan kejutan “besar” kepada Trump—sebuah pernyataan yang mengindikasikan bahwa Iran telah menyiapkan kejutan bagi pasukan AS jika benar-benar menginvasi .
Kata Ray Dalio: Titik Genting Sejarah
Billionaire pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, sejak awal telah memperingatkan bahwa Amerika tidak memiliki kapasitas untuk perang yang panjang dan menyakitkan. Rakyat Amerika tidak punya toleransi untuk itu. Dan Iran tahu persis strateginya: drag it out sampai Amerika lelah sendiri .
Dalam analisisnya pekan lalu, Dalio menyebut bahwa Selat Hormuz adalah “medan pertempuran penentu” (decisive battle) untuk tatanan global. “Semuanya bermuara pada siapa yang menguasai Selat Hormuz,” tulisnya di X .
Dalio membandingkan potensi kegagalan Amerika di Hormuz dengan Krisis Terusan Suez yang menandai berakhirnya Kekaisaran Britania. Dalam momen-momen seperti ini, “orang dan uang secara naluriah mengalir menuju pemenang.” Jika Amerika gagal mengamankan selat ini, itu akan menjadi bukti bahwa “AS tidak memiliki kapasitas untuk menyelesaikan masalah ini”—dan itu akan memicu pergeseran besar dalam aliansi global dan sistem keuangan .
Hitung-hitungan Perang: 2 Miliar Dolar per Hari
Setiap tambahan pasukan yang dikirim bukanlah tanda Amerika menang. Ini adalah tanda bahwa Iran berhasil memaksa Amerika masuk lebih dalam dari yang direncanakan.
Sementara itu, biaya perang terus mengalir. Pentagon telah mengajukan permintaan tambahan 200 miliar dolar untuk biaya perang, yang menunjukkan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan konflik yang lebih berkepanjangan . Angka ini jauh melampaui perkiraan awal.
Di sisi lain, dampaknya terhadap rakyat Amerika mulai terasa. Harga bahan bakar di pompa bensin AS telah melonjak ke level tertinggi sejak 2022, dengan beberapa stasiun menjual bensin hingga 8 dolar per galon. Ini menjadi pengingat harian bagi warga Amerika tentang biaya perang yang mereka tanggung .
Apa Selanjutnya?
Pertanyaannya sekarang: Apakah Amerika benar-benar akan menginvasi darat Iran? Atau ini semua hanya tekanan maksimal untuk memaksa Iran membuka Selat Hormuz?
Seorang pejabat senior administrasi AS mengatakan kepada Axios bahwa prioritas Trump tetaplah membuka kembali akses melalui selat tersebut. “Dia ingin Hormuz terbuka. Jika dia harus mengambil Pulau Kharg untuk mewujudkannya, itu akan terjadi. Jika dia memutuskan untuk melakukan invasi pesisir, itu akan terjadi. Tapi keputusan itu belum dibuat,” kata pejabat tersebut .
Skenario yang lebih mungkin, menurut pensiunan Laksamana Muda Mark Montgomery, adalah setelah sekitar dua pekan serangan lanjutan untuk melemahkan kemampuan militer Iran, AS kemungkinan akan mengerahkan kapal perusak dan pesawat ke selat untuk melindungi lalu lintas tanker—membuat invasi darat tidak diperlukan .
Namun satu hal yang pasti: dengan 82nd Airborne bersiap bergerak dan ribuan marinir dalam perjalanan, Amerika sedang membangun opsi untuk eskalasi lebih lanjut. Dan ketika pasukan sekelas Global Response Force mulai bergerak, itu berarti pilihan untuk “wind down” semakin jauh dari jangkauan. (**)
source: x













