LOCUSONLINE, GARUT – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali menegaskan bahwa status negaranya sebagai kekuatan bersenjata nuklir bukan sekadar kebijakan melainkan prinsip yang tak bisa ditawar, bahkan dengan diskon diplomasi sekalipun.
Dalam pidato terbarunya yang dilaporkan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Kim menyatakan bahwa Pyongyang tidak akan pernah meninggalkan identitas nuklirnya. Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah dirinya kembali dikukuhkan sebagai kepala Komisi Urusan Negara lembaga tertinggi dalam struktur kekuasaan negara tersebut.
“Korea Utara tidak akan pernah mengubah statusnya sebagai negara bersenjata nuklir,” tegas Kim, seolah ingin memastikan dunia tidak salah paham: ini bukan fase, ini permanen.
Kim menegaskan bahwa penguatan senjata nuklir bukan hanya strategi pertahanan, tetapi sudah menjadi arah ideologis negara. Ia bahkan menyebut ekspansi kemampuan nuklir sebagai langkah yang “sepenuhnya dibenarkan” sebuah frasa yang terdengar seperti pembenaran sebelum debat dimulai.
Dalam pidatonya, ia juga menyinggung konstitusi negara yang disebut memberi mandat untuk terus mengembangkan “penangkal nuklir”. Dengan kata lain, bom atom kini bukan sekadar alat militer, melainkan bagian dari identitas nasional.
Tak berhenti di sana, Kim secara eksplisit menyebut Korea Selatan sebagai “negara paling bermusuhan”. Sebuah label yang mungkin membuat hubungan antar-Korea semakin sulit dibayangkan akan kembali hangat bahkan dalam skenario optimistis.
Baca Juga : Rudal Bersahut, Sirene Menyaut: Episode Baru “Diplomasi Langit” Iran-Israel
Pyongyang, kata Kim, akan merespons setiap tindakan yang dianggap melanggar dengan cara “tanpa ampun” sebuah pernyataan yang terdengar seperti kebijakan luar negeri versi tanpa tombol pause.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










