LOCUSONLINE, JAKARTA – Di tengah harga minyak dunia yang melonjak seperti ekspektasi sebelum tanggal tua, pemerintah mulai meracik strategi penghematan energi yang menyasar hingga dapur rumah tangga. Dari kebijakan kerja dari rumah hingga imbauan mematikan kompor tepat waktu, semua kini masuk radar efisiensi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, tampil sebagai juru bicara gerakan “hemat sebelum terlambat”. Ia mengajak masyarakat menggunakan energi secara bijak, seolah energi kini bukan sekadar kebutuhan, tapi juga ujian kedewasaan nasional.
Salah satu jurus yang segera diterapkan adalah kebijakan work from home (WFH). Skema ini diklaim mampu menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) hingga 20 persen sebuah angka yang terdengar ambisius, meski dampaknya terhadap produktivitas masih menunggu bab berikutnya.
“Gunakan energi dengan bijak,” pesan Bahlil, yang bahkan merinci sampai level kompor. Jika masakan sudah matang, api diminta tidak ikut “berlama-lama dalam hubungan yang tak perlu”. Sebuah filosofi hemat yang kini merambah dapur rakyat.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan panic buying BBM. SPBU, menurutnya, bukan tempat spekulasi bisnis dadakan. Ia menyoroti praktik antre panjang kendaraan yang diduga membeli BBM untuk dijual kembali, fenomena yang membuat antrean lebih mirip pasar sekunder daripada layanan publik.
“Kalau kebutuhan 30-40 liter, ya cukup segitu,” ujarnya, mencoba menenangkan publik agar tidak berubah menjadi kolektor bensin musiman.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












