Di sisi lain, klaim militer Washington yang menyebut telah melumpuhkan kekuatan Iran juga mulai diuji. Sumber intelijen yang dikutip media internasional menyebut bahwa yang benar-benar berhasil dihancurkan baru sekitar sepertiga dari arsenal rudal dan drone Iran. Sisanya? Masih cukup untuk membuat kawasan tetap panas secara harfiah dan geopolitik.
Serangan juga dilaporkan menyasar pangkalan udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, melukai sedikitnya 12 tentara AS, dua di antaranya dalam kondisi kritis. Tak berhenti di situ, drone juga menghantam bandara internasional di Kuwait, merusak sistem radar dan menambah daftar panjang infrastruktur yang ikut “terseret” konflik.
Masuknya Houthi juga membawa ancaman serius bagi Selat Bab al-Mandab, jalur penting di selatan Laut Merah. Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa menyaingi atau bahkan melengkapi kekacauan di Selat Hormuz yang sebelumnya nyaris ditutup oleh Iran.
Dalam skenario terburuk, dua jalur utama energi dunia bisa terganggu bersamaan. Artinya, bukan hanya harga minyak yang naik, tetapi juga tekanan ekonomi global yang bisa berubah dari “waspada” menjadi “panik kolektif”.
Sejak serangan pada 28 Februari, Arab Saudi telah mencoba mengalihkan ekspor minyaknya melalui jalur pipa ke Laut Merah. Namun, jika jalur alternatif ini ikut terancam, bukan tidak mungkin Riyadh akan ikut turun langsung ke medan konflik mengubah peta perang menjadi lebih luas dan lebih sulit dikendalikan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyebut Iran telah memberi izin tambahan bagi kapal berbendera Pakistan untuk melintasi Selat Hormuz, sebuah kabar yang terdengar seperti secercah harapan di tengah badai, meski tetap bergantung pada stabilitas yang masih rapuh.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










