Iran tidak hanya mengandalkan retorika. Mereka mengklaim telah mengerahkan hingga satu juta personel untuk menghadapi kemungkinan invasi darat. Jumlah ini mencakup berbagai elemen, mulai dari tentara reguler, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), hingga pasukan paramiliter Basij.
Menariknya, di tengah ancaman perang, justru terjadi lonjakan pendaftaran sukarelawan dari kalangan pemuda. Pusat-pusat perekrutan dilaporkan dipadati warga yang ingin “ikut ambil bagian” sebuah fenomena yang dalam situasi normal mungkin disebut patriotisme, tapi dalam konteks ini terasa seperti kesiapan kolektif menghadapi badai.
Selain Pulau Kharg, perhatian global juga tertuju pada Selat Hormuz jalur laut vital yang menjadi salah satu arteri utama distribusi energi dunia. Iran menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kendali atas kawasan tersebut, bahkan jika harus menghadapi tekanan militer langsung.
Menurut sumber militer, setiap upaya AS untuk membuka selat itu secara paksa tidak hanya akan dianggap sebagai agresi, tetapi juga sebagai tindakan “pengorbanan diri”.
Dengan kata lain, pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: masuk boleh, keluar belum tentu.
Pernyataan keras ini muncul di tengah meningkatnya spekulasi tentang kemungkinan eskalasi konflik antara AS dan Iran, terutama setelah berbagai langkah militer dan diplomatik yang saling berbalas dalam beberapa pekan terakhir.
Meski belum ada keputusan resmi terkait invasi darat, pernyataan dari pihak Iran menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bersiap secara militer, tetapi juga secara psikologis membangun narasi bahwa setiap langkah agresif akan dibayar mahal.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










