Sementara itu, respons dari Teheran tidak kalah keras. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuding AS bermain dua wajah, yaitu bicara dialog di depan, menyiapkan serangan di belakang.
Ia bahkan mengklaim pasukan Iran sudah “menunggu” kedatangan tentara AS dengan janji balasan yang tidak setengah-setengah.
“Rudal kami siap,” tegasnya, seperti dikutip Tasnim News Agency.
Dalam pernyataan sebelumnya, Ghalibaf juga memperingatkan bahwa setiap upaya menduduki wilayah Iran akan dibalas dengan serangan ke infrastruktur vital negara-negara regional yang terlibat. Sebuah pesan yang secara halus berarti konflik ini tidak akan tetap lokal.
Dari sisi militer, Iran juga mengirim sinyal ke laut. Kepala Angkatan Laut, Shahram Irani, menyebut kapal induk AS seperti USS Abraham Lincoln akan menjadi target jika berada dalam jangkauan.
Tak berhenti di situ, Iran juga membuka kemungkinan memperluas konflik ke Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur penting lain bagi perdagangan global. Bahkan kelompok Houthi disebut siap ikut bermain jika diperlukan.
Jika skenario ini terjadi, maka jalur perdagangan dunia bisa berubah dari rute logistik menjadi medan tempur.
Di tengah ketegangan, upaya diplomasi masih berjalan meski terdengar seperti suara latar. Pakistan dilaporkan memediasi pembicaraan antara Washington dan Teheran, dengan melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Mesir.
Namun dengan kapal perang yang sudah bergerak dan rudal yang sudah disiapkan, diplomasi kini seperti berlari mengejar eskalasi yang lebih cepat.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










